Setelah hampir 66 tahun bangsa kita merdeka ternyata sebagian besar kaum buruh belum bisa mengecap inti kemerdekaan yaitu kesejahteraan. Padahal kontribusi kaum buruh bagi pembangunan tidaklah dapat dianggap sebelah mata.
Bahkan dapat dikatakan kalau tulang punggung pembangunan adalah kaum buruh. Hal itu disampaikan ketua umum Federasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negara (FSP BUMN) Bersatu, Arief Poyuono,S.E, secara tertulis kepada maiwanews.com.
Lebih lanjut dijelaskan, dalam konteks kesejahteraan, problem buruh sebenarnya lebih pada masalah ekonomi dengan harga yang terus merangkak naik. Dan makin banyaknya industri-industri besar yang tutup atau pindah ke negara lain dikarenakan iklim investasi di Indonesia kurang menguntungkan, maka tidak heran kalau investasi yang menarik di Indonesia hanyalah pada sektor pertambangan bukan sektor manufaturing atau industri yang mengunakan labour massive.
Sebenarnya jika para buruh itu mendapatkan fasilitas kesehatan, sekolah, dan perumahan yang layak, persoalan upah tidak akan menjadi kompleks. Namun karena harga-harga terus naik di seluruh sektor kehidupan, maka tuntutan upah naik menjadi krusial.
Dari penelitian Bank dunia tahun 2010, 43% pendapatan buruh dengan standar UMR habis hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan saja akibat terus naiknya harga kebutuhan pokok, sedangkan 10 persen untuk transportasi, dan sisanya tidak mencukupi untuk biaya pendidikan anak dan biaya kesehatan.
“Jadi boleh dikata buruh dan keluarganya dilarang sakit dan anak buruh dilarang pintar”, kata Poyuono.
Arus Lalu Lintas Tol Jelang Puncak Mudik, Lancar
Lantamal VI, Palu Gagalkan Penyelundupan Barang Ilegal Senilai Rp1,5 Miliar
Prabowo dan Rosan Bahas Danantara dan Arah Investasi
?Wali Kota Makassar Pastikan Seleksi Sekda Berjalan Transparan dan Profesional?
Tim Aju Bantuan Kemanusiaan TNI Berangkat ke Myanmar









