Keluarga Korban 11 September Jadi Mualaf

serangan-wtc-11-september-2001New York, maiwanews – Paska penyerangan 11 September 2001 (9/11) terhadap menara kembar WTC banyak warga Amerika Serikat (AS) menyalahkan Islam. Tapi tidak demikian dengan Elizabeth Torres, salah seorang keluarga korban Black September.

Kini ia justru menjadi seorang mualaf, meski delapan anggota keluarganya menjadi korban serangan 11 September. “Saya tak pernah menyalahkan agama apapun atas apa yang terjadi pada keluarga saya,” ujar Torres. “Islam tidak menyuruh kita untuk menghancurkan apapun. Orang-orang yang melakukan ini dimanipulasi, dicuci otaknya.”

Elizabeth mengaku telah lama menjalani pencarian spiritual. Ia memeluk agama Islam setelah menikah dengan seorang warga Mesir meski ditentang keluarganya. Setelah memeluk Islam, Ia mengganti namanya menjadi Safia El-Kasaby.

Putri El-Kasaby, Sylvia, istri seorang tentara yang gugur di medan perang menolak berhubungan kembali dengannya. Putrinya yang lain, harus menghadapi komentar miring dari teman-temannya. “Mereka bilang, ‘Oh, ibumu teroris sekarang.’ Dan saya bilang, ‘Tidak, itu berbeda sama sekali dengan agamanya,” ujar Natalia Torres.

Tidak mudah bagi Elizabeth Torres untuk beralih agama pasca serangan 11 September. Kejadian 11 September tak pelak lagi membuat banyak kalangan memandang umat Islam dengan penuh curiga. Bahkan survei terbaru Gallup menyebutkan setidaknya 48 persen warga Muslim Amerika pernah mengalami diskriminasi atau setidaknya perhatian negatif dari warga sekitar.

Karena diskriminasi seperti itulah, Torres yang sempat mengenakan jilbab mengambil keputusan untuk menanggalkan penutup rambutnya. “Yang penting adalah hubungan saya dengan Tuhan. Bila hati saya baik-baik saja dengan Dia, tidak penting apa yang orang lain katakan,” ujarnya.

Pada peringatan 10 tahun 11 September, muallaf ini kembali menyayangkan mengapa agama pilihannya ini dibajak oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam.

Sepuluh tahun pascaperistiwa 11 September, sebagian masyarakat AS memandang Islam sebagai ancaman, sementara sebagian lagi mendorong terwujudnya kerukunan lintasagama. Di gereja Blackman United Methodist Mulfreesboro misalnya, sekelompok warga dari berbagai latar belakang agama berkumpul untuk menunjukkan solidaritas. Menurut Pendeta Lucinda Nelson, penolakan warga antara lain bersumber dari rasa takut akan perubahan.

Pemuka agama Islam mencatat, memang sentimen anti-Islam seringkali tidak berawal dari umat beragama sendiri. Bahkan umat lintasagama sering bersatu untuk menolak sentimen anti-agama minoritas.

“Ketika seorang pendeta di Florida (Terry Jones) membakar kitab suci Al-Quran di Florida, gereja-gereja di New York justru sibuk membagikan Al-Quran kepada publik untuk mendinginkan suasana,” ujar Shamsi Ali, salah satu pemuka agama Islam yang cukup aktif dalam berbagai aktivitas lintasagama di wilayahnya.(VoA/aso | Foto: UpstateNYer)