MaiwaNews – Kementerian Perdagangan bekerjasama dengan Sarinah serta didukung Kementerian BUMN dan Kementerian Budaya dan Pariwisata, hari ini mempersembahkan Kebangkitan Sarinah dengan tema “100% Cinta Produk Indonesia” untuk menegaskan kembali Sarinah sebagai pusat perdagangan, pusat kuliner, pusat cinderamata dan kerajinan dari seluruh Indonesia.
Kebangkitan Sarinah ini sejalan dengan program kampanye ‘100% Cinta Indonesia’ yang diluncurkan Pemerintah dan didukung seluruh lapisan masyarakat guna meningkatkan citra Indonesia di mata dunia. “Sarinah merupakan wadah yang tepat untuk mendukung kampanye ‘100% Cinta Indonesia’, karena di tempat inilah produk-produk kreatif dari berbagai daerah di Indonesia ditampilkan. Semuanya hasil karya anak bangsa bukan hanya Made in Indonesia, tetapi Created in Indonesia,” kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu dalam sambutannya.
Selain turut mendukung program kampanye ‘100% Cinta Indonesia’, kebangkitan Sarinah juga sejalan dengan program pengembangan ekonomi kreatif yang dapat menciptakan citra kreatif pada produk/jasa untuk meningkatkan posisi ‘Nation Branding’ Indonesia di mata dunia Internasional. Hal ini merupakan salah satu usaha untuk pembentukan citra Indonesia secara menyeluruh sehingga memberikan rangsangan kepada masyarakat domestik dan internasional untuk merasakan kreativitas bangsa Indonesia dengan membeli dan menggunakan produk dan merek buatan Indonesia.
Sarinah dibangun atas prakarsa Bung Karno pada tahun 1962. Sejak didirikan, khasanah Sarinah adalah melayani kebutuhan masyarakat sekitarnya maupun turis asing melalui skema ritel modern pertama Indonesia. Selama 48 tahun perkembangannya, Sarinah telah melalui masa-masa jatuh bangun, dan saat ini adalah saatnya untuk bangkit kembali. Dalam hal ini, sejalan dengan pengharapan dari Bung Karno, Sarinah dapat membawa citra bangsa ini bukan hanya di Indonesia tetapi juga di mata dunia.
“Selama ini Sarinah mengayomi, membina serta memasarkan produk ribuan pengrajin dan pengusaha kecil nusantara khususnya batik, kerajinan dan busana muslim. Tentunya Sarinah yang juga sebagai tujuan wisata mancanegara dan nusantara patut berbenah diri meningkatkan citranya, serta pelayanannya kepada stakeholder. Sarinah harus bangkit menjadi aset nasional yang terpelihara baik,” tambah Mendag.
Kebangkitan Sarinah yang dituangkan dalam bentuk dukungan 100% Cinta Produk Indonesia ini meliputi perubahan pelayanan, barang dagangan yang lebih lengkap khususnya produk kerajinan dan batik yang dihadirkan dengan wajah baru, seperti produk batik ramah lingkungan Eco Friendly Batik & Craft (EBC), yang bekerja sama dengan Clean Batik Initiative yang diprakarsai oleh EKONID (Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman).
Untuk produk makanan dan minuman, pada coffee shop akan disediakan produk oleh-oleh nusantara maupun jamu-jamu herbal, lengkap dengan “Barista” atau peramu kopi ulung yang menyediakan kopi khas Sarinah yang diolah dan diramu secara khusus sehingga memberikan kenikmatan yang luar biasa bagi para peminum kopi yang telah menggemari kopi Sarinah sejak dulu.
Mendag menyampaikan bahwa, “Ini adalah saat yang tepat buat Sarinah untuk melakukan perubahan di tengah ketatnya persaingan ritel di bidang kerajinan dan produk Indonesia saat ini, serta semakin meningkatnya daya beli masyarakat dan kecintaan terhadap produk Indonesia.”
Beberapa rangkaian acara juga dihadirkan dalam menyambut Kebangkitan Sarinah 100% Cinta Indonesia ini, seperti festival makanan, kesenian musik, seni graffiti dan event Art Garage yang telah dimulai dari tanggal 25 Mei hingga 13 Juni 2010. Misi Art Garage adalah mengedukasi anak-anak agar mengenal budaya Indonesia seperti wayang melalui animasi sederhana yang menarik untuk anak-anak.
“Semoga Kebangkitan Sarinah 100% Cinta Indonesia akan meningkatkan semangat untuk menggemari produk Indonesia yang berkualitas dan bersaing. Mari terus kita kembangkan Sarinah ini agar makin indah, makin nyaman dan makin bertaraf internasional. Kemendag juga mendorong agar Sarinah melakukan kemitraan dengan daerah penghasil kerajinan dan UKM sehingga bisa tumbuh bersama,” jelas Mendag.
.









