Kemiskinan tak Diukur dari Pendapatan Perkapita Saja

SBYmaiwanews – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, mengukur kemiskinan itu berbeda-beda dari satu negara ke negara yang lain. Meskipun ada yang sifatnya universal, tidak bisa hanya dilihat dari pendapatan perkapita atau orang seorang.

Presiden SBY mengatakan hal tersebut pada bagian lain pengantarnya ketika membuka Sidang Paripurna Kabinet di Ruang Garuda, Istana Bogor, Kamis, 21 Oktober 2010.

Presiden kemudian menjelaskan definisi kemiskinan menurut Bank Dunia:
Pertama, orang yang miskin itu adalah orang yang sulit untuk mendapatkan kecukupan pangan untuk kehidupan sehari-harinya.
Kedua, kalau sakit tidak bisa berobat.
Ketiga, tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya.
Keempat, tidak punya pekerjaan yang pantas atau yang tetap. “Atau kalau punya pekerjaan, penghasilannya sangat kecil,” kata SBY menjelaskan.
Dan kelima, tidak punya tempat atau rumah yang relatif  layak untuk dihuni.

Jadi, lanjut Kepala Negara, dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih adil dan menyeluruh, diharapkan penghasilan orang seorang dapat meningkat.

“Ada satu sasaran yang langsung kita arahkan. Yang tadinya tidak bisa menyekolahkan anaknya kita bikin bisa menyekolahjkan dengan bantuan untuk sekolah,” kata SBY.

Menurutnya, kita pahami defenisi kemiskinan Bank Dunia sambil dalam jangka panjang pertumbuhan ekonomi bisa didongkrak menjadi makin sejahtera.

“Kalau program reforma agraria beserta KUR (Kredit Usaha Rakyat) dijalankan, dalam 5 tahun ini saya yakin peningkatan kesejahteraan rakyat dalam mengurangi kemiskinan dapat lebih cepat dan lebih efektif lagi,” kata SBY.