Korea Selatan Upayakan Perdamaian dengan Utara

ilustrasi-bendera-korsel-korut
Ilustrasi bendera Korsel dan Korut.

maiwanews – Pemimpin Korea Selatan (Korsel) menyatakan komitmen untuk terus memperjuangkan perdamaian dengan tetangganya di Utara. Presiden Korea Selatan Senin 25 Oktober mengatakan akan terus mempromosikan perdamaian melalui dialog hingga akhir masa jabatannya pada bulan Mei.

Pernyataan itu disampaikan ditengah meningkatkan ketegangan setelah Pyongyang kembali melakukan uji coba senjata. Korea Utara (Korut) juga mengecam Washington dan Seoul karena berbagai kebijakan mereka dianggap sebagai tindakan permusuhan.

Dalam pidato kebijakan terakhirnya di parlemen, Presiden Korea Selatan (Republic of Korea/ROK) Moon Jae-in menyampaikan akan melakukan upaya sampai akhir untuk membantu tatanan baru perdamaian dan kemakmuran di Semenanjung Korea melalui dialog dan diplomasi.

Sebagai bagian dari upayanya untuk meredakan ketegangan, Presiden Moon beberapa waktu lalu mendorong deklarasi simbolis untuk mengakhiri Perang Korea 1950-53. Perang tersebut berhenti dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Presiden Moon merupakan pendukung rekonsiliasi lebih besar dengan Korea Utara (Democratic People’s Republic of Korea/DPRK), ia pernah bolak-balik antara Pyongyang dan Washington untuk membantu memfasilitasi diplomasi nuklir. Namun Pyongyang bersikap dingin terhadap Moon setelah diplomasinya dengan Washington gagal pada awal 2019 di tengah perselisihan mengenai sanksi.

Masa jabatan lima tahun Presiden Moon berakhir Mei mendatang, dan dia dilarang oleh hukum untuk mencalonkan diri kembali. Kandidat presiden dari partai liberal telah mengungkapkan bahwa kebijakannya terhadap Korea Utara serupa dengan kebijakan Moon. Sebaliknya, survei menunjukkan calon potensial dari partai konservatif kemungkinan akan mengambil garis keras di Utara.

Uji Coba Sistem Senjata Korea Utara

Uji coba sistem senjata Korea Utara baru-baru ini sebagian besar adalah senjata jarak pendek dan menengah. Senjata ini menempatkan Korea Selatan dan Jepang dalam jangkauan serangan mereka. Selasa pekan lalu, Korea Utara menembakkan rudal balistik dari kapal selam dalam uji senjata paling signifikan sejak Presiden Joe Biden menjabat pada Januari.

Beberapa ahli mengatakan Korea Utara mungkin menguji rudal jarak jauh dengan daya ancaman langsung ke tanah air Amerika serikat (AS) untuk meningkatkan tekanannya pada Washington dalam beberapa pekan mendatang.

Para ahli menyebut tindakan pemerintah Korea Utara (Republik Demokratik Rakyat Korea) merupakan upaya agar sanksi dilonggarkan dan menerima negara itu sebagai negara nuklir secara sah. (z/BBG Direct/VOA)