Kronologi Pembebasan KM Sinar Kudus Oleh TNI

perompak-somaliamaiwanews – Ternyata upaya pembebasan terhadap kapal KM Sinar Kudus dari Perampak Somalia, dilakukan dengan dua cara sekaligus. Negosiasi dengan membayar uang tebusan serta melakukan operasi militer, dilakukan secara paralel.

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Laksamana Agus Suhartono menjelaskan,  operasi militer pembebasan 20 anak buah Kapal Sinar Kudus tersebut telah disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya.

“Kami menerima persetujuan dari Presiden tentang kekuatan yang akan melibatkan dua kapal frigat, 1 heli, dan pasukan khusus pada 19 Maret,”  kata Agus Suhartono di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin 2 Mei 2011.

Sementara pasukan khusus yang dikirim dalam operasi yang diberi sandi Duta Samudra I/2011 itu kata Panglima, terdiri dari Marinir (TNI-AL), Kopassus (TNI-AD) dan Kopaska (TNI-AU.

Berikut kronologi pembebasan sandera di Somalia berdasarkan penjelasan Panglima TNI.

16 Maret 2011
KM Sinar Kudus dibajak tanggal 16 Maret 2011 pada posisi 13.37,78 N/59.03,88E. Kapal milik PT Samudra Indonesia itu kemudian dijadikan mother ship oleh perompak Somalia untuk beroperasi ke utara hingga ke teluk Oman.

17 Maret 2011
Presiden SBY menerima laporan terkait penyanderaan WNI di KM Sinar Kudus oleh perompak Somalia.

18 Maret 2011
Pukul 11.00 WIB : Presiden memberikan arahan tentang rencana operasi pembebasan sandera.

Pukul 14.00 WIB : Rapat khusus Polhukam (Menkopolhukam, Penglima TNI dan Kapolri) untuk membahas cara bertindak. Cara bertindak yang diputuskan di rapat itu antara lain :

1. Membebaskan kapal dengan operasi khusus jika kapal sedang berada di lautan
2. Menyiapkan rencana cadangan bila kapal telah lego jangkar, dengan mempelajari dan mempertimbangkan perkembangan situasi terakhir.
3. Mengirim 2 KRI jenis fregat dan pasukan khusus

19 Maret 2011
Menerima persetujuan dari Presiden SBY tentang kekuatan yang akan dilibatkan. Kekuatan itu terdiri dari : 2 KRI, 1 Helikopter, pasukan khusus yang teridiri dari Marinir, Kopassus, Kostrad dan Kopaska.

20 Maret 2011
Dilakukan persiapan kapal dan pasukan

21 Maret 2011
Paparan rencana operasi dan keputusan Presiden:
1. Dua KRI Frigat dengan 1 helikopter diberangkatkan dari Jakarta.
2. Pasukan khusus diberangkatkan dari Jakarta menggunakan pesawat TNI AU dan bergabung dengan kapal di Kolombo.
3. Komando dan pengendali oleh Gugus Tempur Laut Armada Kawasan Barat dan keputusan akhir oleh Presiden.
4. Pembebasan dilakukan, diutamakan pada saat kapal sedang berlayar

23 Maret 2011
Pukul 18.00: 2 KRI dan 1 helikopter berangkat dari Jakarta

29 Maret 2011
2 KRI dan 1 Helikopter tiba di Kolombo dan menerima pasukan khusus dan bekal ulang.

30 Maret 2011
Berangkat dari Kolombo menuju perairan Somalia. Info terakhir KM Sinar Kudus telah lego jangkar di perairan Somalia. Namun, ada kemungkinan masih akan di gunakan sebagai mother ship.

4 April 2011
Gugus tugas tiba di perairan Somalia, selanjutnya pengumpulan data dan  persiapan rencana cadangan yakni:

1. Hasil deteksi dari helikopter:  KM Sinar Kudus telah lego jangkar di antara 8  kapal lain yang dibajak.
2. Belum ada negara-negara lain yang bisa membebaskan kapal saat lego jangkar.
3. Pada umumnya ABK yang disandera sering dipindah dan jumlahnya di kapal tidak lengkap
4. Setiap kapal yang dibajak dijaga oleh pasukan pengaman tersendiri
5. Ada 15-20 kelompok pembajak yang terorganisir dengan baik
6. Kapal-kapal dilegojangkarkan di kota-kota yang dihuni mayoritas pembajak
7. Tidak ada akses langsung yang dapat melaporkan perkembangan setiap saat.

6 April 2011
Satuan tugas menuju ke Salalah Oman (pangkalan militer) untuk bekal ulang

12 April 2011
Satuan tugas sudah siap kembali untuk antisipasi KM Sinar Kudus berlayar kembali.

13 April 2011
Negosiasi ada titik terang, rencana  pembebasan disesuaikan yaitu:
1. Pelaksanaan pemberian tebusan harus dipastikan dapat menjamin keselamatan ABK Sinar Kudus
2. Pada saat pelepasan akan dilaksanakan tindakan militer terhadap pembajak

Tanggal 6 April
Satgas ke Pelabuhan Oman, Salalah, untuk bekal ulang

Tanggal 12 April
Antisipasi Sinar Kudus keluar dari perairan Somalia

Tanggl 13 April
Negosiasi mendapatkan titik terang yakni penindakan disesuikan dengan tebusan. Harus dipastikan mendapat jaminan keselamatan ABK. Kemudian pada saat pelepasan akan dilaksanakan tindakan militer terhadap perompak.

18 April 2011
Presiden pada rapat terbatas di Bogor memutuskan:
1. Selamatkan sandera, dilanjutkan pengejaran terhadap perompak dengan operasi militer
2. Aksi serentak pembebasan sandera dengan kekuatan 1 kapal, 1 helikopter, Kopassus, Kostrad, Marinir dan pelibatan Sandi Yudha pimpinan Dankormar.

Tanggal 21 April
Penambahan kekuatan diberangkatkan ke Jakarta menuju Somalia.

27 April 2011
Presiden memimpin papat khusus dengan keputusan:
1. Bebaskan dan selamatkan ABK
2. Tindakan aksi militer terhadap elemen perompak
3. Mengawal KM Sinar Kudus ke Oman

28 April 2011
Rencana dropping uang tebusan dengan pesawat komersil yang disewa manajemen Samudera Indonesia batal.

30 April 2011
Dropping uang oleh perwakilan Samudera Indonesia, penghitungan uang tebusan oleh perompak dan pembagian uang tebusan ke perompak, investor, tokoh informal 10 persen, dan penjaga 10 persen. Perhitungan dilakukan di kapal hingga malam.

1 Mei 2011
Pagi hari, perompak turun dari MV Sinar Kudus. Setelah tidak ada lagi perompak, dilakukan aksi militer untuk melakukan pengejaran perompak. Karena perompak tahu tindakan itu, perompak ikut menyerang dan terjadi baku tembak.
– Empat pembajak yang terakhir turun dari KM Sinar Kudus dilumpuhkan, namun 4 perompak itu tewas dan tercebur laut dan mayatnya tidak ditemukan. Hanya speedboatnya yang berhasil ditemukan dan dibawa ke Indonesia.
– Dilaksanakan sterilisasi terhadap kemungkinan masih ada pembajak di kapal dan bahan peledak hingga kapal aman
– Kapal KM Sinar Kudus di kawal ke Oman oleh 2 KRI.

Direncanakan, KM Sinar Kudus yang memuat bijih nikel senilai Rp. 1,4 triliun, kapal LPD (Landing Platform Deck), beserta satgas, tiba di Salalah Oman pada tanggal 4 Mei 2011 untuk lakukan konsolidasi.