Jakarta – Pernyataan mengejutkan disampaikan oleh mantan Menteri BUMN pertama Indonesia Tanri Abeng, bahwa laba seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia jika digabungkan, hanya sebesar US$ 7 miliar, sementara laba Petronas mencapai US$ 20 miliar pada tahun 2009.
Itu berarti laba 158 buah BUMN yang ada di Indonesia hanya kurang lebih sepertiga dari laba satu perusahaan negara di Malaysia, Petronas.
Hal tersebut disebabkan karena kinerja perusahaan pelat merah di Indonesia semenjak 11 tahun kemeterian BUMN dibentuk, meski terdapat kemajuan , namun masih tidak efisien.
Padahal pengelolaan BUMN seharusnya bisa dibuat lebih efisien, asal pemerintah menciptakan iklim persaingan. Contohnya seperti PT. Telkom yang memacu efisiensi pengelolaan karena dalam industrinya harus berkompetisi dengan swasta.
Telkom bisa berkontribusi 15 persen terhadap penerimaan pemerintah dari laba BUMN. Padahal, asetnya hanya lima persen dari yang dimiliki total 158 BUMN.
Hal tersebut diungkapkan Tanri Abeng yang juga menjabat sebagai komisaris utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) di sela Indonesia Summit 2010 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis 25 Maret 2010.
Menurut ahli manajemen asal Makassar itu, tiga isu penting pengembangan infrastruktur di Indonesia, yakni energi, transportasi, dan telekomunikasi, mayoritas dikelola BUMNÂ karena ketiganya termasuk bidang strategis.
Karena itu pemerintah kemudian membentuk Kementerian BUMN pada 1998 untuk mengelola 158 perusahaan, namun hingga kini pengelolaan BUMN belum efisien.









