Lima Bulan Tutup, Jalur Pendakian Semeru Kembali Dibuka

SURABAYA – Setelah sempat ditutup selama lima bulan, karena dianggap membahayakan bagi keselamatan pendaki, kini jalur pendakian tersebut dibuka untuk para pendaki, meski KALI MATI GUNUG SEMERUhanya sampai di Kali Mati saja.

Pembukaan jalur tersebut menyusul sudah diperbaikinya jalur pendakian dan tidak ada ancaman dari Gunung Semeru.

Kepala Bidang Pengelolahan Taman Nasional Wilayah II Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS), Anggoro, yang dihubungi dari Surabaya, Jumat (15/05/2010) menyatakan sejak kemarin, Kamis (14/05/2010) jalur pendakian gunung tertinggi di Jawa tersebut sudah dibuka.

Diungkapkan, pembukaan kembali jalur pendakian itu setelah pihaknya beserta tim SAR Kabupaten Lumajang melakukan survei pendakian ke puncak semeru beberapa waktu lalu.

”Rekomendasi dari Badan Vulkanologi, Giologi dan Mitigasi Bandung, juga sudah dikantongi. Sehingga, aman bagi keselamatan pendaki,” tutur Anggoro.

Pembukaan jalur pendakian tersebut masih dibatasi sampai kawasan Kali Mati saja.

”Kalau sampai dipuncak, masih belum dibuka karena kondisi puncak semeru masih rawan longsor apalagi pada musim penghujan seperti saat ini. Sehingga, sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan pendaki,” ujar Anggoro.

Apalagi, di atas Kali Mati, sejumlah sejumlah tanda dan rambu pendakian hilang menuju puncak Jonggring Saloko. Bahkan, Badan Vulkanologi, Giologi dan Mitigasi Bandung memberi peringatan jika Gunung Semeru masih rawan memuntahkan material vulkanik. Jarak muntahan material itu setidaknya bisa mencapai hingga 500 meter.

“Rambu dan tanda hilang karena tumbang diterjang badai,” ungkap Anggoro.

Meski sudah dibuka, Anggoro mengaku para pendaki tetap diwajikan untuk melapor ke Pos Ranu Pane sebelum melakukan pendakian.

”Ini merupakan langkah dini, untuk menghindari pendaki hilang ataupun tersesat. Sehingga, Tim SAR bias secepatnya melakukan langkah antisipasi,” kata Anggoro.

Dari data yang berhasil dihimpunmenyebutkan, jalur pendakian Gunung yang mempunyai nama puncak Mahameru tersebut ditutup sejak akhir 2009 lalu. Pentutupan tersebut untuk perbaikan ekosistem gunung tertinggi di Jawa itu. Bahkan, penutupan jalur pendakian semeru diperpanjang karena aktifitas gunung semeru meningkat pada Maret 2010.
Langkah penutupan merupakan langkah antisipasi untuk menghindari jatuhnya korban jiwa, pasalnya pendaki bisa saja hilang atau tersesat akibat kondisi Gunung Semeru yang semakin membahayakan, bukan hanya ancamn longsor tapi juga ancaman badai.