maiwanews – Setelah dilakukan penelitian, diketahui jenis gempa yang terjadi di Kepulauan Mentawai Sumatera barat tergolong Slower Quirk. Gempa jenis ini memiliki kekuatan yang besar, namun justru dirasakan sangat pelan.
“Tapi ternyata dengan gempa yang pelan namun waktu getaran cukup lama, ternyata mampu menghasilkan gelombang gempa sepanjang 8 meter, dengan ketinggian gelombang air laut mencapai 14 meter,” kata Ketua Peneliti Gempa dari LIPI, Danny Hilman.
Danny Hilman mengatakan, dengan rasa yang pelan itu justru waktunya lebih lama. “Dan jika itu sampai hitungan satu menit, itu jauh lebih membahayakan,” kata Danny saat jumpa pers di Kantor Setneg, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Jumat, 19 November 2010.
Danny menjelaskan, dari hasil penelitian yang dilakukannya 10 hari di Mentawai, bersama dua peneliti Amerika, Jose Borero dari Manager Coastal Science Group dan Hermann M Fritz dari Georgia Institute of Technology Savannah, jenis gempa ini memang tergolong langka. Sebab seperti tsunami di Aceh terdahulu, kuatnya gempa yang dirasakan, mampu mendeteksi tsunami.
Menurut Danny, penelitian itu sengaja dilakukan untuk memecahkan teka-teki mengapa dengan gempa yang dirasakan pelan ini, justru menimbulkan korban hingga ratusan jiwa. Dalam penelitian tersebut, lanjutnya, tim yang dibantu Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, LIPI dan Eart Observatory of Singapore ini, bertujuan mencari tahu sumber gempa, tinggi tsunami dan tergolong jenis apa gempa itu.
Penelitian tersebut mereka lakukan dengan bertanya langsung pada penduduk yang menjadi korban. Hasilnya kata Danny, memang benar gempa pelan tersebut dirasakan cukup lama. Akibatnya, sebagian warga berfikir keadaan masih cukup aman untuk tetap tinggal di rumah.
Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa ternyata gempa yang pelan, jika berlangsung lebih dari satu menit, dalam ilmu seismologi, artinya sama dengan magnitudenya lebih dari 8 SR. Sedangkan gempa mencapai setangah menit saja, kata Danny, itu sudah bisa lebih dari 7 SR.
“Jadi saya minta masyarakat tetap waspada setiap ada gempa apalagi sifatnya dirasakan,” kata Danny menghimbau.
Dengan hasil dari penelitian ini, lanjut Danny, paling tidak bisa menjadi pembelajaran buat semua penduduk Indonesia yang tinggal di daerah pesisir. Karena menurutnya, deteksi tsunami tidak harus selalu menunggu instruksi BMKG.
Seperti diketahui, gempa 7,2 pada skala richter (SR) di Kepulauan Mentawai tersebut yang sebelumnya dinyatakan berpotensi menimbulkan gelombang tsunami oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), justru dicabut sendiri beberapa saat kemudian.
Akibat pencabutan peringatan itu, warga yang tinggal di bibir pantai menjadi kurang siap. Saat mereka mendengar gemuruh air mendekat ke pemukiman, warga yang panik tidak lagi sempat menyelamatkan diri dari sapuan ombak.
Di samping pencabutan peringatan itu, ketidaksiapan warga menghadapi tsunami juga disebabkan karena singkatnya waktu antara terjadinya gempa dengan datangnya gelombang tsunami, apalagi tsunami datang saat malam hari.









