maiwanews – Mantan direktur Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA), David Petraeus, memberi kesaksian di hadapan Komite Intelijen DPR terkait serangan bulan September di konsulat Amerika di Benghazi, Libya, Jum’at 16 September 2012. DPR dan Komite Intelijen Senat memulai dengar keterangan tertutup hari Kamis 15 September mengenai serangan di Benghazi, Libya. Insiden it menewaskan Duta Besar Amerika, Christopher Stevens, dan tiga warga Amerika lainnya, dengan kesaksian dari para pejabat intelijen dan kontra-terorisme Amerika.
Petraeus menyatakan keyakinannya bahwa serangan 11 September terhadap konsulat Amerika di Benghazi, Libya adalah ulah para teroris. Namun seusai sidang dengar keterangan itu, Anggota Kongres dari Partai Republik Peter King, kepada wartawan mengatakan seingat dia Petraeus tidak memperlihatkan sikap begitu yakin akan keterlibatan teroris pada tanggal 14 September ketika ia memberi penjelasan kepada komite DPR mengenai masalah Benghazi.
Banyak anggota Kongres prihatin mengenai tidak memadainya penjagaan keamanan di konsulat itu, dan apakah pemerintahan Obama berusaha menyembunyikan informasi tersebut untuk menghindari situasi memalukan sebelum pemilihan presiden 6 Nopember.
Petraeus mundur dari jabatannya sebagai pimpinan CIA pekan lalu setelah penyelidikan FBI mengungkapkan perselingkuhannya dengan penulis biografinya, Paula Broadwell. Insiden itu juga menimbulkan keprihatinan tentang kemungkinan adanya pelanggaran keamanan nasional. Jaksa Agung Eric Holder mengatakan hari Kamis bahwa tidak ada pelanggaran keamanan nasional dalam skandal Petraeus itu. (aso/VoA | Foto: David Petraeus oleh CIA)
Danlantamal VI Tinjau Kesiapan Personel Gabungan Pengamanan Hari May Day
Prabowo Luncurkan Gerakan Indonesia Menanam di Banyuasin
Khamenei Minta Militer Iran Tingkatkan Kemampuan
Danlantamal VI dan Gubernur Sulsel hadiri panen Raya Serentak
Menlu Rusia Sebut Warga Sipil Jadi Korban Serangan Ukraina









