NATO mengakui tanpa sengaja serangan yang dilancarkan dua hari lalu menghantam pemberontak Libya. Sari Sabtu pasukannya menyerang sebuah konvoi kendaraan militer di daerah konflik antara pasukan pemberontak dan Libya. Konvoi itu kemudian dikukuhkan sebagai patroli oposisi.
NATO tidak mengungkapkan jumlah korban, tapi menyesalkan segala kemungkinan hilangnya nyawa atau luka-luka.
Terkait klaim pemerintah Libya bahwa serangan udara aliansi menarget warga sipil, NATO melalui juru bicaranya Oana Lungescu pada jumpa pers hari Sabtumengatakan tuduhan itu adalah keterlaluan. Ia bahkan menuding Khadafi-lah yang melakukan serangan secara sistematis dan brutal terhadap masyarakat sipil.
Hari Jumat, Khadafi menyampaikan pesan audio berapi-api di mana ia bertekad mengalahkan pasukan NATO. Pesannya ditayangkan ketika pesawat tempur NATO menghantam target-target di ibukota, Tripoli. Televisi pemerintah Libya mengatakan serangan udara sekutu juga dilancarkan hari Sabtu terhadap salah satu wilayah di ibukota.
Di tempat lain, bentrokan terjadi antara pasukan pemimpin Libya Muammar Khadafi dan pemberontak di kota Nalut, Libya barat laut. Pasukan pemberontak hari Sabtu mengatakan setidaknya delapan orang tewas dalam bentrokan itu.
Upaya-upaya diplomatik berlanjut guna membantu menyelesaikan krisis Libya. Para pemimpin Uni Eropa, Uni Afrika dan PBB berkumpul di markas Liga Arab di Kairo hari Sabtu. Mereka membahas kebijakan yang bisa membantu mengakhiri konflik Libya, melindungi warga sipil dan memberikan bantuan kemanusiaan.
Dalam perkembangan terpisah, Austria hari Sabtu menjadi negara terakhir yang menyatakan akan mengakui oposisi Dewan Transisi Nasional sebagai wakil sah rakyat Libya. Kelompok itu telah mendapat pengakuan dari berbagai negara, termasuk Italia, Perancis, dan Qatar. (VOA/aso | Foto: BRQ Network)









