Pemkab Kebingungan Pindahkan Nisan Pengusaha Belanda

BOJONEGORO – Sebuah batu nisan lawas yang terpendam di jalanan Desa Bakalan, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, atas nama warga Belanda J Van Der Sluijs yang meninggal tahun 1844 akhirnya dipindahkan. Namun begitu, sampai saat ini Pemkab Bojonegoro masih bingung akan dikemanakan benda lama itu.

“Yang penting kita amankan dulu supaya tidak rusak,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Djindan Muhdin, Kanis (30/12/2010).

Djindan menebak-nebak, batu nisan tersebut bukan buatan Indonesia. Hanya, mengaku belum tahu pasti akan dikemanakan batu nisan temuan tersebut.

Menurut Djindan, batu nisan seberat satu ton itu harus diangkat dengan menggunakan derek. Sebelumnya, batu nisan dari marmer dengan tebal 15 cm, panjang 2,5 meter dan lebar 1,3 meter ini, tertimbun tanah pada kedalaman 1 meter di jalanan Desa Bakalan, Kecamatan Kapas.

Tapi yang pasti, saat ini batu nisan tersebut dipindahkan ke kantor Disbudpar Bojonegoro, Selasa (28/12) malam . Menurut Djindan yang digali dari penuturan warga setempat, batu nisan tersebut pada tahun 1974 dipindahkan warga dari lokasi aslinya, untuk membuat jembatan di jalanan dusun setempat.

Setelah dipindahkan dan dibersihkan, di atas batu nisan tersebut kemudian muncul tulisan “J Van Der Sluijs Geb 15 Sept 1784 le GEER Truidenberg Weil 23 April 1844 Le Smanding”.

Menurut perkiraan Djindan, Van Der Sluijs menetap dan tutup usia di Desa Semanding, Kecamatan Kapas, yang berada persis di selatan Desa Bakalan. Warga Belanda itu meninggal karena sakit. Berdasarkan sejumlah versi, Van Der Sluijs, adalah seorang pengusaha yang menggeluti bisnis tebu.

“Bukan pengusaha tembakau. Alasannya, karena tembakau Virginia Voor Oosgt (VO) baru ditanam di Bojonegoro dan sekitarnya setelah tahun 1870. Dan sebelum itu tanaman paksa yang dilakukan Belanda kepada rakyat yakni tebu,” ungkap Djindan. (LEA)