TUBAN – Kawasan pegunungan kapur di Kabupaten Tuban yang membentang dari barat ke timur, mulai dari wilayah Kecamatan Parengan, Singgahan, Montong, Kerek, Merakurak, Semanding, Palang, Plumpang, Rengel, Soko dan Kecamatan Grabagan menjadi lahan perekonomian masyarakat dalam melakukan usaha pembuatan batu kumbung yang dipakai membangun rumah atau gedung sebagai pengganti bata merah yang harganya lebih mahal.
Namun, usaha tambang tradisional ini dari sisi keselamatan sangat mengancam nyawa mereka. Betapa tidak. Pembuatan batu kumbung dengan peralatan sederhana seperti linggis dan gergaji itu, menimbulkan lobang menjorok yang dalam. Dilihat sepintas, memang indah dan menarik layaknya goa atau candi yang dipahat ratusan tahun.
Tapi keindahan bagi yang melihatnya, sesungguhnya bagai sebuah perangkap mait para para penambang yang melakukan penggalian di bawah lobang-lobang besar. Tidak ada sengatan panas. Di dalam lobang besar itu berhawa sejuk dikarenakan kelembabakan dinding batu kapur yang mereka buat setiap hari.
Namun, maut sewaktu-waktu siap menjemput oleh timbunan longsor.
Di sentra penambangan batu kumbung di Desa Sumberejo dan Maibit, Kecamatan Rengel serta tempat lainnya sudah banyak kejadian penambang tertimmbun lonsgoran dan tewas. Namun, insiden maut itu tak pernah menyurutkan tekad mereka yang terus bermunculan dari terus menerus demi pemenuhan kebutuhan ekonomi.
“Setiap pekerjaan pasti ada risikonya. Tak terkecuali para penambang batu kumbung seperti kami. Tapi, kalau tidak melakukan usaha ini darimana diperoleh uang,” tutur, Munajat, seorang penambang batu kumbung dari generasi muda.
Disamping ancaman kematian, kata Munajat, adalah terus meningkatnya persaingan serta jumlah penambang. Meski usaha tersebut dikelola secara tradisional, tingkat pendapat dan omzetnya juga mengalami peningkatan.
Dikatakan Mumajat, pasar batu kumbung tak hanya melayani wilayah lokal Tuban saja. Tapi, telah ke sejumlah kota di Jawa Timur seperti Gresik, Surabaya , Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro serta sejumlah kota di Propinsi Jawa Tengah.
Untuk pasar di kota Surabaya dan sekitarnya, kata Mujayat, disamping dipakai untuk perumahan kini juga digunakan untuk bangunan gedung. Dari segi kwalitas dan kekuatan, batu kumbung tak kalah dengan bata merah.
“Karena batu kumbung lebih murah, saat ini banyak rumah mewah yang dindingnya terbuat dari batu kumbung,” tutur Munajat yang seharinya mengaku mampu menghasilkan batu kumbung sebanyak 200 biji untuk pengerjaan sampai jam sembilan malam dengan menggunakan penerangan lampu petromak atau lampu neon yang dinyalakan dengan aki.
Perolehan para penambang batu kumbung, jika dibanding dengan risikonya, memang tidaklah sepadan. Seorang penambang dari generasi tua, Sadik, menyatakan perbaikan ekonomi penambang dari waktu ke waktu tidak mengalami perubahan berarti.
Sadik mengibartkan, pendapatan satu hari hanya cukup untuk kebutuhan hari itu juga. Namun, Tasbi sendiri dan juga penambang lainnya, tak mampu berbuat banyak akibat mereka tak mampu berusaha di bidang lainnya.
Di sisi lain, disadari atau tidak oleh para penambang, kondisi hutan di wilayah Kabupaten Tuban semakin kritis dan membahayakan akibat maraknya penambangan batu kumbung.
Berdasar data yang dihimpun menyebutkan, di wilayah Perhutani KPH Tuban sejumlah 1.400 hektar lebih lahan hutan yang ada keadaannya makin kritis. Disebutkan, sedikitnya terdapat lima persen lahan dalam keadaan sangat kritis.
Sementara luas hutan di KPH Tuban sendiri hanya 28 ribu hektar. Disebutkan pula, wilayah kawasan yang banyak ditambang batu kapurnya berada di Kecamatan Semanding, Kerek dan Merakurak. (LEA)
Prabowo Tegaskan Komitmen Kedaulatan Pangan
Semangat Kartini, Aliyah Mustika Ilham Serukan Perempuan Jadi Penggerak Perubahan
Peringatan Hari Kartini 2025 di Sulsel: Seruan untuk Perempuan Terus Berkarya
Fatmawati Rusdi Tekankan Pendekatan Humanis Satpol PP
Presiden Prabowo Terima Menlu Prancis, Tekankan Penguatan Kemitraan









