
maiwanews – Presiden Amerika Serikat Joe biden menyebut penembakan massal di Boffalo, New York, Amerika Serikat, merupakan tindakan terorisme domestik. Kekerasan itu ditimbulkan oleh kebencian dan kehausan akan kekuasaan dengan mendefinisikan satu kelompok orang secara inheren lebih rendah daripada kelompok lain.
Kebencian melalui media dan politik maupun internet, telah meradikalisasi individu saat dalam keadaan marah, terasing, tersesat, dan terisolasi. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato hari Selasa (17/05/2022) waktu setempat saat berkunjung ke Boffalo, New York, Amerika Serikat.
“Saya dan kalian semua menolak kebohongan itu. Saya meminta semua orang Amerika untuk menolak kebohongan. Dan saya mengutuk mereka penyebara kebohongan demi kekuasaan, keuntungan politik, dan keuntungan.”, ungkap Presiden Biden.
Supremasi kulit putih disebut sebagai racun, mengalir melalui tubuh politik kita. Dan itu dibiarkan bernanah dan tumbuh tepat di depan mata kita. Ideologi supremasi kulit putih tidak memiliki tempat di Amerika.
Menurut Presiden Biden, Sekarang adalah waktunya bagi orang-orang dari semua ras, dari setiap latar belakang, untuk berbicara sebagai mayoritas di Amerika dan menolak supremasi kulit putih.
“Kita harus menolak untuk tinggal di negara di mana orang kulit hitam dapat ditembak mati saat berbelanja bahan makanan setiap pekan oleh senjata perang dimana digunakan untuk tujuan rasis.”, tegas Presiden Biden.
PENEMBAKAN MASSAL DI BUFFALO
Sabtu 14 Mei lalu Payton Gendron, berusia 18 tahun, melepaskan tembakan menggunakan senapan serbu di pasar swalayan Tops Friendly Market. Swalayan ini terletak di lingkungan dengan mayoritas warga kulit hitam. Pelaku menembak 13 orang, 10 diantaranya tewas, 3 lainnya cidera. 11 korban tembak berkulit hitam.
Gendron dalam melaksanakan aksinya mengenakan pelindung tubuh dan helm berkamera. Melalui kamera di helmnya, dia menyiarkan langsung serangannya melalui platform media sosial Twitch. (z)









