maiwanews – Akibat makin luasnya penyebaran awan panas menyusul meningkatnya aktifitas Gunung Merapi sejak Rabu hingga Kamis, area aman yang semula hanya 10 kilometer diperluas hingga 15 kilometer.
Akibatnya sejumlah pengungsi seperti yang ada di barak pengungsian Kepuharjo dan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah dikosongkan, Kamis, 4 November 2010.
Pengungsi di Kepuharjo dipindah ke barak pengungsian Wukirsari, Cangkringan, sedangkan di lapangan Glagaharjo dipindahkan ke balai desa setempat, gedung sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama.
Berdasarkan rekomendasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, para pengungsi dipindahkan ke kawasan dengan radius 15 kilometer dari puncak Merapi.
Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, DR Soerono telah meminta perluasan area aman dari 10 km menjadi 15 km sesaat setelah terjadi peningkatan aktifitas Merapi.
Namun Gubernur DI Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono X justru mengatakan, tidak ada perluasan area aman tersebut. Menurutnya, tidak perlu ada pemindahan pengungsi.
Saat ini, wilayah Kaliurang dan sekitarnya ditutupi kabut pekat. Kabut ini berwarna putih dan membuat jarak pandang sangat terbatas, yakni hanya sekitar 10 meter saja.
Suasana berkabut seperti ini sudah berlangsung sekitar 30 menit lebih dan semakin lama, kabut tersebut justru semakin pekat. Keadaan diperbruk oleh hujan gerimis dengan suara gemuruh petir.
Sementara itu, korban tewas akibat awan panas Merapi menjadi 40 orang setelah seorang warga bernama Nardiwoyono berusia 64 tahun meninggal di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta.
Selain itu, dilaporkan lima korban luka bakar masih dirawat –tiga RS Sardjito dan dua lainnya RS Bethesda. Enam pasien luka ringan lainnya dirawat di RS Sardjito dan RS Panti Nugroho.









