
TUBAN – Hari bumi 22 April setiap tahun terus diperingati oleh manusia sejagad. Tetapi seiring dengan peringatan tersebut, bumi makin menangis dan meronta tak kuasa menahan derita berkepanjangan akibat ulah tak bertanggungjawab dari manusia yang rakus.
Bumi tidak memiliki kekuatan teknologi sebagaimana manusia yang mempunyai peradaban. Bumi hanya bisa pasrah menghadapi perilaku manusia yang keberadabannya mulai terganggu dan juga mengalami kerusakan. Air laut pasang terjadi setiap saat, hutan gundul di
mana-mana. Banjir melanda dunia. Bekas galian bahan tambang dibiarkan menganga tanpa ada upaya reklamasi yang memadai.
Kali ini dengan motivasi hari Bumi ini sekaligus juga hajatan dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Perum Perhutani ke-52, BKPH Sekaran, KPH Jatirogo beberapa pekan lalu mengajak semua elemen masyarakat sekitar hutan menanam bibit tanaman jenis Kemiri Sunan sekaligus memberikan bantuan bibit sekaligus serta melakukan sosialisasi penyelamatan sumber mata air di dalam kawasan hutan Jatirogo.
‘Berawal mencoba sebanyak 1.498 benih kemiri sunan (reutealis trisperma) yang pertama hingga sukses menanam bibit menjadi 10.000 plances tersirat mencoba berdialog dengan teman-teman LMDH, koq mereka justru merespon untuk ditanam dibeberapa titik sumber mata air dan tanah-tanah yang sulit direboisasi karena factor selalu tergenang air,” ungkap Yuli Teguh Anggoro, Asper BKPH Sekaran saat di lokasi hutan.
Dengan dukungan masyarakat sekitar wilayah kerjanya, Teguh bersama teman-teman se-BKPH sekaran bergerak menanam jenis tanaman ini ke petak-petak yang sulit ditanami jenis tanaman produktif Jati di RPH Demit.
“Sebelum nasi telah menjadi bubur. Makanya sebelum proses kehancuran bumi sepertinya tinggal tunggu waktu kita percaya jika kelak akan datang melalui agenda menanam ini bisa dipetik oleh anak cucu kita kelak. Sisa waktu yang ada menjadi penghuni bumi harus digunakan untuk melakukan hal-hal yang bersifat positif. Merapikan kembali hal-hal yang tidak beres dalam kehidupan selama ini,” ungkap Gujono, (48), Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan ‘Sekar Jati’, Desa Sekaran, Kecamatan Jatirogo.
“Kita sebagai petugas hanyalah bisa membantu mengarahkan, mendorong dan berikan bantuan lainnya seadanya. Dengan memberikan ilustrasi tanda-tanda memicu segera berakhirnya kehidupan di hutan seakan akan dari hutan hingga mengarah global ke Bumi kita ini. Maka Insya Allah walau hanya sekecil apapun kontribusinya, mereka kita ajak kita rawat baik-baik hutan yang dekat dengan mereka guna penopang kehidupan ini terhadapnya,” papar Amas Wijaya, Adm KPH Jatirogo. Teguh Y-SR. (lea/met)
Pemerintah Pastikan Penyaluran Bantuan Bencana Sumatra Berjalan Cepat
Prabowo Hadiri KTT ke-46 ASEAN, Tegaskan Komitmen akan Sentralitas Kawasan
Patroli Perintis Presisi Polda Metro Jaya Gagalkan Dua Aksi Tawuran di Jakarta Timur
Prabowo Hadiri peringatan Hardiknas 2025 dan Peluncuran PHTC di SDN Cimahpar 5
Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-29, Pemkot Surabaya Gelar Upacara di Balai Kota









