SURABAYA – PT PLN Distribusi Jawa Timur optimistis bisa memenuhi standar layanan bertaraf internasional pada tahun ini. PLN Jatim kini sedang berkonsentrasi menggarap dua dari delapan kabupaten/kota yang tersisa untuk menekan jumlah kasus pemadaman listrik menjadi sembilan kali pemadaman per pelanggan per tahun. Ini seperti yang dipersyaratkan layanan berstandar dunia.
Deputy Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Jatim, Arkad Matulu, Ddi Surabaya menyatakan, hanya Kabupaten Pamekasan dan Ponorogo yang masih berstatus siaga merah dan kuning. Ini karena angka pemadamannya masih 25 kali dan 10 kali per tahun.
“Kami optimistis 36 kabupaten/kota di Jatim tetap bertahan di status hijau (kurang dari 9 kali pemadaman per tahun) dan dua sisanya segera menyusul paling lambat pertengahan tahun ini,” ujarnya di Surabaya.
Arkad Matulu menngungkapkan, kendala untuk menekan jumlah kasus pemadaman di dua wilayah tersebut lebih disebabkan oleh faktor masyarakat. Di Pamekasan misalnya, banyak kasus pemadaman terjadi akibat kerusakan kabel yang tertimpa dahan pohon milik warga.
Tetapi, kata Matulu, upaya pemangkasan dahan yang mengganggu jaringan listrik PLN ini terkendala tuntutan ganti rugi oleh pemilik pohon.
“Kami mundur, karena pemilik pohon mengancam petugas PLN yang memangkas pohon mangga, rambutan, dan kelapa,” papar dia.
Sementara itu, aktivitas pemadaman di Pamekasan juga kerap dipicu oleh kelebihan pemakaian, terutama saat petani gencar menanam tembakau. Para petani tembakau banyak yang menggantol listrik untuk mengaktifkan pompa air di areal pertanaman tembakau.
Arkad Matulu, yang pernah bertugas di Pulau Madura ini, bahkan menyebutkan, setiap sumur di ladang tembakau menggunakan 15 hingga 20 unit pompa air yang listriknya diambil dengan cara menggantol.
“Selain merugikan PLN, aktivitas itu juga membahayakan, karena listrik diambil dengan cara menggantol dari tiang yang berjarak hingga berkilometer,” tutur Arkad Matulu. (doni sujito)









