Jakarta – PT PLN (Persero) berpotensi mengalami kerugian hingga Rp 14,5 triliun dari penjualan listrik di wilayah Indonesia Timur pada tahun ini. Hal itu disebabkan biaya
pokok produksi listrik (BPP) yang terlalu tinggi sementara penjualannya sangat rendah.
Menurut Direktur Operasi Wilayah Indonesia Timur Vickner Sinaga, biaya pokok produksi listrik Indonesia bagian Timur pada 2009 mencapai Rp 2000 per kilowatt jam. Sedangkan harga jual ke pelanggan hanya Rp 682 per KWH.Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) rata-rata sebesar 10% pada bulan Juli mendatang juga tidak akan memperbaiki kondisi keuangan PLN di wilayah tersebut.
“Kalau BPP tidak diturunkan dan harga jual tidak dinaikkan, maka untuk produksi listrik sebesar 11 miliar kwh, kami membutuhkan dana sebesar Rp 22 triliun, sementara pendapatan dari penjualan hanya sebesar Rp 7,5 triliun maka PLN harus menombok sebesar Rp 14,5 triliun.” ungkap Vickner di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat, 30 April 2010..
Untuk itu, biaya produksi tahun ini diharapkan mengalami penurunan hingga menjadi Rp 1.915 per KWH. Sedangkan harga jual naik menjadi Rp 720 per KWH. Penjulan listrik di Indonesia Bagian Timur mencapai 11 miliar KWH. “Penjualan PLN di daerah itu hanya Rp 7,5 triliun,” tuturnya.
Menurutnya, langkah yang paling efektif untuk menekan potensi kerugian tersebut adalah dengan menurunkan BPP listrik tersebut dengan cara mematikan salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Sulawesi dengan kapasitas 80 MW dan menggantinya dengan PLTD MFO yang disewa perseroan dari pihak lain.
“Kami akan matikan PLTG yang makan solar itu, lalu kita sewa PLTD MFO karena malah dengan sewa kita bisa hemat Rp 800 miliar dari situ saja,” ujarnya.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah mendukung penghematan dengan mengoptimalkan pengoperasian pembangkit dengan memanfaatkan bahan bakar murah seperti energi panas bumi, air serta surya yang melimpah di tanah air.
Wilayah kerja PLN Indonesia Bagian Timur cukup luas yakni meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
.









