
maiwanews.com- Cacat fisik bukan berarti hilang semua harapan. Termasuk harapan untuk berkarya atau sekadar menyalurkan hobi. Itulah yang dirasakan Purwanto, warga Perumahan Mondokan Sentosa, Tuban ini. Meski cacat fisik, tak menghalangi hobinya atau aktivitasnya sehari-hari.
Sepintas, memang lelaki 37 tahun ini punya tubuh normal. Namun, bila dicermati, ada bagian tubuhnya yang hilang, yakni kaki sebelah kirinya. Hal itu tak mematahkan semangatnya untuk terus berkarya atau beraktivitas, meski hanya mengenakan kaki palsu. Bahkan, lelaki yang bekerja di PT. Semen Indonsia, ini punya hobi yang dianggap sebagian orang menantang bahaya atau penuh risiko. Yakni, adventure dan off road.
Meski cacat kakinya, namun pria tiga anak ini mampu mengemudikan kendaraan Jeep-nya dengan baik di lokasi off road, tepatnya di kawasan Perdin PT. Semen Indonesia, Desa Bogorejo,Kecamatan Merakurak, Tuban. Ini terlihat saat melakukan latihan bersama Semen Indonesia Jeep Community, Sabtu (06/07). Ia tampak cekatan saat menambah atau mengurangi gigi porsneling maupun memegang kendali stir. Tentu saja, mobil yang digunakan pria asal Bojonegoro ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga memudahkannya saat mengemudi. Seperti, membuat pedal kopling berada tepat di sebelah kiri tempat duduknya. “Kalau nggak diubah atau dimodifikasi seperti ini, susah menjalankannya mas,’’ tutur Pur, panggilan akrabnya, kepada wartawan usai melakukan latihan off road.
Dari modifikasi mobilnya itu, Purwanto mampu melewati rintangan yang cukup menantang, seperti jalan tanjakan, berlumpur dan menikung.
Pria murah senyum ini sudah menggeluti hobinya itu sekitar tahun 2010 lalu. Awalnya, hanya coba-coba, namun lama-lama justru ketagihan setelah bergabung dengan komunitas Jeep di perusahaan BUMN itu.”Dari situ, saya lalu sering mengikuti ekspedisi di berbagai kota,’’akunya.
Pur menambahkan, patah kakinya dialami saat dia sedang bekerja di perusahannnya, tepatnya di bagian produksi pada 2001 silam. Karena kondisi kakinya tak memungkinkan, akhirnya oleh dokter diamputasi. “Ya gimana lagi mas, semua sudah menjadi suratan takdir,” kenangnya. (heri setiawan)
.









