Jakarta – Heboh pembobolan bank melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM)  bermula dari hilangnya uang sebesar Rp. 255,5 juta terhadap lima orang nasbah Bank Central Asia (BCA) Denpasar Bali, dua diantaranya warga negara asing.
Dalam waktu singkat setelah ter blow up melalui media secara luas, ternyata informasi tentang pembobolan itu makin luas, beberapa nasabah dari beberapa bank seperti BRI, BNI, dan Mandiri, juga menjadi korban pembobolan di tempat dan kota yang berbeda. Bahkan 3 nasabah BRI dari Kuta, Renon, dan Ubud Bali dibobol dari Mskow dan Toronto.
Jumlah kerugian akibat pembobolan itu makin besar, di Bali terdata telah mencapai 500 juta rupiah dari 20 nasabah berbagai bank termasuk BCA dan Mandiri, nasabah BNI Denpasar terdata jumlah pembobolan mencapai Rp. 200 juta, 3 nasabah BRI yang dibobol melalui Moskow dan Toronto dengan jumlah kerugian Rp. 48, 5 juta. Bahkan seorang nasabah Mandiri Bandung menderita kerugian hingga Rp. 100 juta akibat pembobolan yang justru telah terjadi pertengahan tahun lalu.
Pola utama pembobolan itu, setidaknya yang ramai dibicarakan adalah dengan cara duplikasi kartu ATM. Duplikasi itu dilakukan dengan merekam data – data yang ada di kartu dengan sebuah alat kecil yang biasa ditempelkan di mulut tempat kartu dimasukkan di mesin ATM. Cara kerja alat yang disebut Skimmer Reader itu sebenarnya akan merekam semua kartu berbasis magnetik, kira – kira sama dengan alat pembayaran elektronik yang biasa di pusat perbelanjaan yang kita sebut sebagai alat gesek. Data yang telah terekam tersebut selanjutnya dipindahkan ke sebuah kartu bodong.
Modus operandi duplikasi seperti di atas, mengingatkan kita belasan tahun lalu ketika penggunaan telepon umum dengan kartu magnetik masih sangat populer. Kartu bodong magnetik yang telah diisi dengan sejumlah pulsa palsu, dengan mudah dapat dijumpai di masyarakat.
Semetara kartu ATM bodong yang telah berisi data tersebut, untuk menggunakannya, masih memerlukan PIN. Untuk mendapatkan PIN, caranya adalah merekam gerakan jari saat menekan PIN dengan alat perekam atau spy camera, sebuah kamera super kecil yang ditempatkan di sisi tertentu mesin ATM yang sulit terlihat.
Pola lain yang juga seringkali digunakan adalah dengan mengganti nomor telepon Call Center yang biasanya ditempel pelaku di mesin ATM. Jika nasabah mengalami kesulitan seperti yang paling sering terjadi seperti kartu tertelan, maka proses pembobolan dimulai setelah PIN sang nasabah diminta melalui Call Center palsu itu.
.









