Menlu Clinton: Selamat Siang. Terimakasih atas kehadirannya siang ini. Sebelum memulai komentar mengenai sejumlah pertemuan penting yang diadakan pada pertemuan APEC tingkat menteri, saya ingin meminta waktu untuk menyampaikan bahwa hari ini adalah Hari Veteran di AS. Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada para veteran serta para prajurit dan keluarganya, banyak diantaranya bertugas di wilayah berbahaya di berbagai penjuru dunia. Saya menghargai setinggi-tingginya dedikasi dan pengorbanan mereka.
Di Singapura, hari ini kita telah secara produktif mendiskusikan berbagai isu regional dan global yang sedang kita hadapi. Saya telah menekankan Presiden Obama komitmen menyangkut kerja sama substantive. Komitmen yang sangat kuat saya rasakan dan telah saya jelaskan pada perjalanan pertama saya selaku Menteri Luar Negeri ke Asia pada awal tahun ini. Dan saat Presiden Obama tiba minggu ini, dia akan menggarisbawahi pandangan Negara kami bahwa APEC merupakan forum penting untuk berkomitmen dan berinteraksi.
Saya sangat menghargai kerja keras yang telah dilakukan Singapura agar pertemuan ini sukses, saya berterimakasih kepada dua pemimpin, Menteri Yoh, dan Menteri Lin, atas kepemimpinan mereka. Dalam pertemuan antar menteri luar negeri APEC, pada sarapan pagi tadi, kita telah membahas isu keamanan regional. Program nuklir Korea Utara menjadi perhatian utama, dan AS bertekad untuk melangkah maju menyangkut isu ini.
Perwakilan Khusus kami untuk kebijakan menyangkut Korea Utara, Duta Besar Stephen Bosworth, akan berkunjung ke Pyongyang dalam waktu dekat. Keputusan untuk mengirim dia dicapai setelah melalui konsultasi ekstensif Enam-Pihak dengan mitra kami. Mereka sepakat bahwa Duta Besar Boswort dapat menggunakan kesempatan ini untuk menekankan prinsip-prinsip utama pernyataan bersama September 2005, termasuk melakukan verifikasi perlucutan senjata nuklir di semenanjung Korea secara tuntas dan damai, serta bekerja untuk melanjutkan perundingan Enam-Pihak
Kami telah membuat tujuan dan parameter dari kunjungan ini menjadi jelas bagi Pemerintah Korea Utara. Ini bukan negosiasi namun upaya untuk memuluskan jalan bagi Korea Utara untuk kembali ke proses perundingan Enam-Pihak. Saya ingin menekankan bahwa harapan kami terhadap Pyongyang tidak berubah dan tidak akan berubah, begitu pula dengan komitmen kami terhadap proses perundingan Enam Pihak. Kami akan menggunakan jalur diplomasi dan kami akan bekerjasama secara erat dengan para mitra kami untuk menemukan solusi damai bagi tercapainya tujuan bersama menyangkut Semenanjung Korea.
Kami juga membahas pendekatan yang dilakukan oleh AS terhadap Burma. Kami telah mulai bekerjasama dengan pihak berwenang di Burma dalam tahap dialog tingkat tinggi untuk memajukan tujuan kami dalam hal reformasi demokrasi dan hak asasi manusia. Negara-negara tetangga Burma dan anggota ASEAN dapat memainkan peran penting untuk mendorong Pemerintah Burma melakukan reformasi, memulai dialog internal yang berarti dengan Aung San Suu Kyi, partai politik, dan minoritas etnis serta menyelenggarakan pemilu 2010 yang adil dan kredibel. Saya tekankan kembali bahwa sanksi dari AS tetap berlaku sampai kami melihat kemajuan yang berarti di bidang-bidang yang penting.
Dalam pertemuan tingkat menteri dan kesempatan santap siang, kami membahas isu-isu seputar masalah ekonomi dan kebijakan luar negeri, terutama memperluas perdagangan dan menjamin pertumbuhan yang berkesinambungan dan inklusif. Saya membicarakan upaya-upaya Amerika untuk memajukan pembangunan dan memperluas kesempatan melalui pendanaan yang lebih luas dan prakarsa baru.
Saya ingin menyampaikan beberapa hal mengenai tantangan global yang terus mendesak yang akan menjadi fokus perhatian dalam beberapa minggu mendatang seiring makin dekatnya pertemuan di Kopenhagen. Kami memperoleh masukan yang berguna dalam diskusi hari ini tentang perubahan iklim. Kami telah mengambil langkah dramatis pada tahun sebelumnya untuk mengubah cara kami menggunakan energi di rumah, dan kami telah ikut ambil bagian dalam perundingan iklim tingkat internasional. Kami percaya semua negara memiliki tanggung jawab untuk mengatasi tantangan global yang mendesak ini dan kami siap untuk menanggung bagian yang menjadi tanggung jawab kami.
Sambil terus bergerak maju, kami berkomitmen untuk mencapai tujuan kesepakatan iklim global yang mengikat secara hukum. Dan kami akan terus bekerja keras bersama masyarakat internasional untuk mencapai tujuan itu. Bila kita mengerahkan segala upaya dan memiliki pragmatisme serta prinsip yang dipadu secara tepat, saya yakin kita dapat meraih hasil yang sangat baik di Kopenhagen, dan itu akan menjadi batu loncatan menuju kesepakatan hukum yang lebih sempurna. Kita tidak boleh membiarkan upaya menuju kesempurnaan menghalangi kemajuan, namun ada ukuran yang jelas yang akan kita gunakan dalam menilai hasil di Kopenhagen.
Pertama, setiap kesepakatan harus segera disertai aksi global di mana semua negara melakukan apa yang menjadi kewajiban mereka. Kita tidak bisa menunda lebih lama lagi. Kedua, setiap kesepakatan harus mencakup semua isu utama, termasuk adaptasi, pembiayaan, kerjasama teknologi, sosialisasi teknologi, pelestarian hutan, dan lain-lain. Ini harus mencakup komitmen pada tindakan mitigasi yang kuat seperti adanya target pengurangan nasional untuk negara-negara maju serta diambilnya tindakan oleh negara-negara berkembang utama untuk mengurangi emisi mereka secara signifikan dibandingkan sebelumnya.
Ketiga, setiap kesepakatan harus mencakup komitmen bagi sebuah sistem yang akan menjamin transparansi dan akuntabilitas berkaitan dengan pelaksanaan tindakan domestik. Keempat, setiap kesepakatan harus mendukung fasilitas pendanaan untuk membantu negara-negara berkembang. Kami siap mendukung dana iklim global yang akan mendukung upaya-upaya adaptasi dan mitigasi serta lembaga terkait untuk membantu negara-negara berkembang menyesuaikan kebutuhan dengan sumber daya yang tersedia. Pendanaan melalui dana iklim global yang baru ini dan sebuah mekanisme teknologi akan membantu negara-negara berkembang mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan, di mana mendapatkannya, serta bagaimana membiayai, mengoperasikan, dan memeliharanya.
Ini adalah tolok ukur yang akan kita gunakan untuk menilai hasilnya. Namun demikian, Kopenhagen bukanlah akhir dari proses ini. Kopenhagen adalah bagian dari komitmen kolektif kita yang lebih besar untuk menyerahkan tanggung jawab pada diri kita sendiri dan orang lain, untuk mempercepat transisi menuju perekonomian global yang rendah karbon, serta untuk mewariskan bumi yang lebih bersih dan lebih hijau untuk anak cucu kita. Jadi setelah Kopenhagen, kita harus melanjutkan upaya ini dengan keseriusan dan tekad yang kuat.
Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih kepada panitia di Singapura atas keramahtamahan dan terselenggaranya pertemuan ini, dan saya akan dengan senang hati menjawab pertanyaan dari Anda.
MODERATOR: Kami menyediakan waktu untuk beberapa pertanyaan. Ada pertanyaan? Sondang Sirait dari SCTV Indonesia.
TANYA: Ibu Menteri, Anda mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia tadi pagi. Bisakah Anda ceritakan isu apa saja yang Anda bicarakan dalam pertemuan tersebut? Lalu mengenai rencana pertemuan antara Presiden Obama dan Presiden SBY akhir pekan ini?
MENLU CLINTON: Pertemuan kami dengan Menteri Luar Negeri Indonesia sangat luar biasa. Kami membahas berbagai macam isu, beberapa isu berdampak pada hubungan bilateral kita, beberapa berdampak pada isu regional dan isu global lainnya. Saya kira pertemuan tadi merupakan diskusi yang komprehensif sampai-sampai kami kehabisan waktu sebelum kami kembali ke masalah tanggung jawab kami masing-masing. Namun saya sangat terkesan pada Menteri Luar Negeri Indonesia yang baru. Beliau memahami isu-isu yang dihadapi, bukan saja oleh negaranya tapi juga oleh kita semua. Pendekatannya yang bermartabat dan pragmatis untuk mengatasi isu-isu tersebut sangat mengesankan, dan saya berharap untuk bisa bekerja sama dengan beliau dimasa depan.
Kita akan membangun dialog yang strategis antara kedua negara kita, dan kami juga mengharapkan Indonesia memainkan peran yang semakin lebih besar di tingkat regional dan global, misalnya seperti yang dilakukan di G-20. Secara khusus, kami yakin pengalaman Indonesia selama 10 tahun terakhir mengalami transisi untuk menjadi sebuah demokrasi yang dinamis sangatlah relevan di Asia, dan secara khusus di Burma. Dan kami juga banyak belajar dari pembicaraan kami dengan sejawat kami dari Indonesia.
Kami sungguh-sunguh mengucapkan selamat kepada Menlu, dan tentu saja Presiden SBY atas kemenangan yang mengesankan di Pemilu. Kedua presiden akan membahas banyak hal dalam pertemuan mereka di akhir pekan ini. Saya tahu Indonesia mempunyai tempat khusus di hati Presiden Barack Obama dan beliau sangat berharap untuk dapat berkunjung secepatnya. Hubungan kedua negara kita sangatlah positif, dan kami ingin memperluas dan memperdalam hubungan tersebut dan membawanya ke tahap yang baru.









