Sekjen NATO Serukan Libya Hentikan Kekerasan

Sekjen-NATO-Anders-Fogh-Rasmussen-23-feb-2010-from-nato-edSekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, dalam pernyataan persnya di Brussels 21 Februari 2011 waktu setempat menyatakan terkejut dengan penggunaan kekerasan oleh pemerintah Libya dalam menangani demonstran. Rasmussen menyesalkan adanya korban jiwa dalam aksi itu.

“Saya menyerukan kepada pihak berwenang Libya untuk menghentikan tindakan represif dalam menghadapi warga sipil tak bersenjata”, kata Rasmussen.

Lebih lanjut dikatakan, orang-orang Libya seperti banyak orang lain di Timur Tengah lainnya, menunjukkan keinginan kuat terhadap perubahan ke alam demokrasi. Kebebasan berekspresi dan berkumpul adalah hak fundamental yang tidak dapat disangkal.

“Sebagai Sekretaris Jenderal aliansi demokrasi, Saya sangat percaya bahwa demokrasi adalah satu-satunya dasar kokoh bagi stabilitas jangka panjang. Dalam jangka panjang, masyarakat tidak bisa mengabaikan kehendak rakyat, karena keinginan untuk kebebasan berada di setiap manusia”, kata Rasmussen.

Sementara itu presiden Libya, Muammar Gaddafi, membuktikan dirinya masih menjadi pemimpin negeri itu. Tanggal 23 kemarin ia berbicara di stasiun televisi pemerintah menepis rumor bahwa dirinya mengundurkan diri. Ia juga mengancam akan menghukum setiap bentuk perlawanan terhadap dirinya.

Kerusuhan di Libya telah menelan korban ratusan orang, baik meninggal maupun luka-luka. Harga minyakpun ikut terimbas oleh memanasnya suhu politik dan keamanan negeri itu.