TUBAN – Proyek normalisasi Afur Kuwu sepanjang wilayah Rengel hingga Widang ternyata menimbulkan masalah bagi petani di wilayah Desun Kuwu, Desa Penidon Kecamatan Plumpang.
Sebab, untuk mengeruk sungai anak Bengawan Solo itu tanggulnya dijeblol pihak pelaksana untuk jalan masuknya beckhoe (mesin pengeruk) sehingga arus sungai meluap dan menggenangi persawahan warga.
“Kami menuntut ganti rugi. Karena kebanjiran jelas tidak bisa panen. Padahal minggu depan rencananya warga sudah mulai panen,” terang Setu (52) petani asal Kuwu, Penidon Plumpang, Sabtu (09/10/2010).
Warga yang memastikan gagal panen itu langsung ngluruk ke pihak pelaksana dan menuntut ganti rugi. Akhirnya Camat Plumpang, Heru Purnomo, Kepala Desun Kuwu, Desa Penidon langsung menggelar pertemuan dengan warga serta pihak pelaksana proyek yang didanai APBD Tuban Rp 3 miliar tersebut.
Perundingan tampak alot, warga tetap minta ganti rugi, karena jelas tidak bisa panen.
“Kalau tidak diberikan ganti rugi, lebih baik proyek itu dihentikan. Ini jelas kelalaian pelaksana. Mestinya tidak perlu tanggulnya dijebol,” tandas sejumlah petani bantaran Afur Kuwu.
Data yang dihimpun di Desa Penidon menyebutkan, hamparan tanaman padi milik warga yang siap panen dan tergenang air sungai sebanyak 17 hektar. Rata-rata hasil panen gabah kering swah setiap hektarnya berkisar 7 ton hingga 8 ton gabah.
Namun, karena tergenang air akibat luapan Afur Kuwu yang tanggulnya dijebol hamparan tanaman padi yang siap panen itu tergenang air. Dipastikan, dalam waktu dua tiga hari batangan padi bakal membusuk dan hasilnya tidak bisa dinikmati petani.
“Selain masih tergenang jelas akan membusuk batangnya, sehingga tidak bisa dipanen,” tambah Wanijo, petani lainya.
Camat Plumpang Heru Purnomo ketika dikonfirmasi masih belum bisa menjelaskan hasil pertemuan tersebut. Sebab, masih belum ada titik temu antara pelaksana proyek dan petani. “Masih kita bicarakan,” terang Heru singkat.
Hal yang sama juga disampaikan Zudi perwakilan dari pelaksana proyek. Menurutnya, pihaknya masih terus melakukan pendekatan dengan warga petani yang pertanianya kebanjiran.
“Pertanian warga kebanjiran itu kan karena hujan deras semalam. Jadi bukan semata-mata karena adanya proyek normalisasi,” ujar Zudi singkat.
.









