Bank Tabungan Negara menggelar BTN Property Expo 2011 selama 9 hari dimulai hari Sabtu (5/2/2011). Pameran yang menampilkan berbagai jenis rumah ini merupakan rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-61 BTN. Pameran ini dibuka secara resmi oleh Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa di Jakarta Convention Center.
Dalam sambutannya, Menpera Suharso Monoarfa menyambut baik digelarnya pameran properti yang diadakan Bank Tabungan Negara (BTN). Suharso mengatakan pameran ini menunjukkan adanya permintaan pasar untuk masyarakat yang tidak memiliki kapasitas namun memiliki kemampuan bankable.
Dalam pameran ini, sebanyak 83 developer ikut berpameran, 30 di antaranya dari market developer FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) dan sisanya komersial yang mencakup segmen pasar menengah ke atas.
Pameran ini menampilkan berbagai jenis tipe rumah, dari mewah, menengah dan bersubsidi dengan lokasi di Jabodetabek, Bandung, Banjarmasin, Cikampek, Karawang, Serang, Cilegon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Makasar, Samarinda, Banjarmasin, Medan, dan Batam.
“Keperluan untuk perumahan saat ini adalah merupakan kebutuhan yang dibutuhkan oleh kaum buruh terutama kaum buruh dengan pendapatan atau bergaji UMR, tetapi mirisnya kebutuhan akan perumahan bagi buruh ini tidak pernah terpenuhi.” Demikian disampaikan wakil ketua umum Komite Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu (KPP FSP BUMN Bersatu), Prakoso Wibowo, pada MaiwaNews.
Wibowo menambahkan, kebutuhan rumah bagi buruh tidak terpenuhi dikarenkan gaji buruh dengan standar UMR tidak Bankable juga bunga yang ditawarkan oleh Bank BTN tidak terjangkau oleh pendapatan kaum buruh yang berpenghasilan UMR, apalagi saat ini kaum buruh tersebut harus berjuang untuk bisa membagi bagi pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan pangan yang harganya terus meroket akibat inflasi dan dari inflasi ini pendapatan buruh akhirnya tergerus. “Jadi jangan mimpi untuk buruh bisa memiliki rumah murah dengan kemudahan kredit dari Bank BTN,” kata Wibowo.
PT Jamsostek yang merupakan badan usaha yang menjadi partner kaum buruh dimana dana di Jamsostek adalah merupakan hasil keringat buruh, yang saat ini ditempat diberbagai bank dan saham, salah satunya adalah Bank BTN, di harapakan penempatan dana Jamsostek di Bank BTN bisa lebih mempermudah kaum buruh yang berpenghasilan UMR dapat memiliki rumah bersubsidi namun kenyataannya persyaratan di Bank BTN tidak memungkinkan untuk Buruh mendapatkan kredit pemilikan rumah bersubsidi dengan bunga yang rendah. Serta persyaratan lainnya adalah gaji UMR buruh dianggap tidak Bankable.
Tidak itu saja Bank BTN pun saat ini lebih banyak melayani segmen konsumen untuk tingkat menengah dan atas dibandingkan untuk Kaum Buruh dengan penghasilan UMR, karena itu Wibowo menganggap sudah tepat dana Jamsostek di Bank BTN di tarik karena tidak berpihak pada kaum buruh kecil.
Atas nama KPP FSP BUMN Bersatu, Wibowo menyatakan pihaknya mendesak PT Jamsostek agar menarik dananya dari Bank BTN dan menempatkan dananya pada bank yang mau membantu buruh dengan pendapatan UMR untuk bisa mendaparkan hunia sederhana dan layak tinggal, atau kami mendukung PT Jamsostek untuk membeli Bank Bukopin dan menjadikan Bank Bukopin sebagai Bank Buruh agar lebih bermanfaat bagi kesejahteraan Buruh.









