Tewas 311 Orang, KRI Soeharso Dialihkan ke Mentawai

kri-soeharso-990maiwanews – Korban tewas akibat tsunami di kepulauan Mentawai terus bertambah, sudah mencapai 311 orang. Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dr Soeharso diperintah mengalihkan tujuan ke Mentawai, Sumatra Barat.

KRI tersebut semula seharusnya berangkat ke Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, namun kemudian mendapat perintah dari Panglima TNI mengalihkan tujuan.

“Hari ini, kapal itu seharusnya ke Wasior. Namun semalam ada perintah dari Panglima TNI melalui KSAL agar keberangkatan dibatalkan dan diarahkan menuju Mentawai,” kata Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Letkol Laut (Kh) Yayan Sugiana di Surabaya, Rabu, 27 Oktober 2010.

Hal itu tidak mengurangi upaya pertolongan di Wasior, karena sampai saat ini di Wasior masih terdapat lima KRI dari unsur Koarmatim, termasuk KRI Kalakay yang mengangkut bantuan logistik dari Manokwari.

Sebagaimana rencana tugas ke Wasior sebelumnya, KRI Soeharso yang berfungsi sebagai rumah sakit terapung itu akan bertugas menjalankan misi kemanusiaan di lokasi gempa Mentawai selama satu bulan.

Kapal itu berangkat ke Mentawai dengan mengangkut bantuan logistik berupa makanan dan minuman serta obat-obatan yang sebelumnya diperuntukkan bagi korban bencana banjir bandang di Wasior.

Selain itu, KRI itu juga membawa personel TNI-AL ditambah dengan 22 dokter dan perawat dengan keahlian di bidang anestesi (bius), bedah tulang, bedah umum, kesehatan gigi, kulit dan kelamin, mata, THT (telinga, hidung, tenggorokan), penyakit dalam, kesehatan umum, saluran pencernaan, saluran pernapasan, malaria, hipertensi, diabetes, dan kejiwaan.

KRI bernomor lambung 990 buatan Korea Selatan dan sudah berpengalaman menangani korban bencana di Tanah Air itu akan bertolak dari Dermaga Ujung, Surabaya, Kamis, 28 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB.

Hingga kini, menurut data yang disampaikan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, korban tewas telah mencapai 311 orang, sementara 4000 lebih warga Mentawai yang mengungsi ke bukit-bukit sebelum bantuan datang.

Korban tewas gelombang tsunami yang mencapai tinggi 6 meter, Senin, 25 Oktober 2010 itu diperkirakan akan terus bertambah mengingat jumlah warga yang dinyatakan hilang mencapai 460 orang.

Sementara data dari Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat menyebutkan, korban meninggal sebesar 282 orang, 77 orang luka-luka dan 411 orang hilang, namun jumlah sebenarnya masih terus dihitung.

Data tersebut dibuat BPBD berdasarkan laporan warga di 4 kecamatan yang diterjang gelombang tsunami yakni kecamatan Sikakap, Pagai Utara, Pagai Selatan, dan Sipora Selatan.