maiwanews – Dari hasil rampokan toko emas di Tebet, Jakarta Selatan, setiap anggota komplotan mendapat bagian masing-masing Rp 50 juta. Penjualan hasil rampokan Rp 600 juta.
“Saya mendapat uang sebesar Rp 50 juta. Semuanya dapat Rp 50 juta masing-masing, kecuali Kartono yang cuma dapat Rp 4,5 juta karena cuma nganterin,” kata salah seorang pelaku, Rizal (28) kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 25 Agustus 2010.
Rizal mengungkapkan, usai melakukan perampokan, kawanan ini berkumpul di sebuah taman di daerah Cijantung. Di situ, mereka mengumpulkan emas-emas yang berat seluruhnya 5,6 kg untuk dijual ke penadah.
Setelah masing-masing mendapatkan bagian uang hasil penjualan emas, pelaku kemudian kabur ke tempat persembunyian masing-masing. “Saya pulang ke Padang,” kata Rizal lagi.
Uang hasil perampokan itu, kata dia, digunakan untuk memenuhi kehidupan keluarganya termasuk untuk keperluan persiapan lebaran. Rizal mengaku, dirinya sudah 4 kali melakukan perampokan toko emas termasuk di Bekasi dan Bogor.
Rizal mengungkapkan, dengan modal senjata api yang dipinjamkan kepadanya, dirinya ikut ke dalam pasar. Namun usai beraksi, senjata dikembalikan kepada pemiliknya berinisial IP, yang hingga kini belum tertangkap.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya telah menangkap 11 pelaku terkait perampokan toko emas di Tebet. 7 Di antaranya penadah dan perantara dan 4 lainnya pelaku perampokan.
Kris yang merupakan otak dari aksi brutal ini, sudah tewas saat dilakukan penangkapan oleh tim khusus Polda Metro Jaya di Ambarawa, Semarang, Selasa, 24 Agustus 2010.
Selain menangkap para pelaku, kata Boy, polisi juga berhasil menyita 7 pucuk senjata rakitan jenis FN dan colt, rakitan serta menyita emas seberat 1,454 kilogram.
Namun polisi masih memburu lima orang anggota komplotan perampok lainnya. Mereka diperkirakan saat ini sedang bersembunyi di Sumatera.









