Tiga Jembatan Putus, Desa Wonokerso Lumpuh Total

PEMUKIMAN DAN TANAMAN BROMOPROBOLINGGO – Meningkatnya erupsi Gunung Bromo disertai gempa tremor (permukaan) yang masih terjadi secara terus menerus, bersamaan dating hujan deras yang mengguyur sejumlah dua Kecamatan Sumber dan Kecamatan Sukapura menyebakan Desa Wonokerso lumpuh. Pasalnya, terjangan air bercampur pasir, memutuskan tiga jembatan pemhubung warga yang tinggal di Desa Wonokerso Kecamatan Sumber.

Selain itu, akibat perubahan iklim dan erupsi Gunung Bromo, juga memutuskan saluran air di desa yang berpenduduk sekitar 635 kepla keluarga (KK). Kepala Desa Wonokerso Naryo mengatakan, putusnya tiga jembatan yang menghubungkan Desa Wonokerso dengan sejumlah desa itu melumpuhkan perekonomian masyarakat.

“Tiga jembatan penghubung Desa Wonokerso dengan desa lainnya, putus sejak awal JAnuari 2011 dan hingga kini baru satu jembatan yang baru di tangani sementara oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo,” kata Naryo.

Dua jembatan yang hinga kini belum mendapatkan perhatian dan diperbaiki oleh Pemkab Probolinggo, yaitu satu jembatan penghubung dengan Dusun Krajan yang dihuni sekitar 450 KK retak dan tidak dapat dilalui. Dan satu jembatab yang menghubungkan Dusun Manting juga putus, padahal dusn berpenduduk sekitar 200 KK setiap harinya membutuhkan asupan makanan.

Sedangkan satu jembatan yang sudah diperbaiki sementara oleh Pemkab Probolinggo, yaitu jembatan yang menghubungkan 300 KK di Dusun Wonodurung dengan warga di Desa Wonokerso lainnya.

“Kondisi itu diperparah dengan putusnya saluran air di kawasan Desa Wonokerso dan Geminto, yang hingga kini kerap putus manakala air bercampur pasir menerjang jembatan,” tandasnya.

Sementara setiap sore di kawasan itu selaluduguyur hujan dan bahaya banjir selalu menghantuan desa berpenduduk 12.350 KK, dengan rincian 635 KK Desa Wonokerso, 600 KK Desa Geminto.
Erupsi Gunung Bromo selain melumpuhkan perekonomian warga di Desa Wonokerso Kecamatan Sumber, juga mengancam ribuan warga yang tinggal di 10 desa dua kecamatan.

Diantaranya lima desa masuk kawasan Kecamatan Sumber, Desa Wonokerso, Sumberanom, Ledokombo, Pandansari dan Desa Geminto. Sedangkan lima desa lainnya masuk kawasan Kecamatan Sukapura Desa Sapikerep, Jetak, Wonokerto, Ngadirejo, Ngadas dan Desa Pakel.
Senada dengan anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Kabupaten Probolinggo, Joko Wahyudi, yang mengatakan bahwa keputusa Bupati Probolinggo nomer 360/25/426.308/2011 tentang berakhirnya masa tanggap darurat Gunung Bromo keliru dan perlu dikaji ulang.

Sepuluh kepala desa di dua Kecamatan Sumber dan Kecamatan Sukapura, sepakat bahwa, keputusan tertanggal 22 JAnuari 2011 harus dikaji ulang.

“Bila tidak segera dicabut, ribuan rumah warga terancam ambruk lantaran tidak kuat menahan abu vulkanik yang menumpuk di setiap atap rumah warga,” ujarnya.

Ketebalan abu vulaknik di rumah warga mencapai 4 – 5 centimeter, untuk mengantisipasi bahaya ambruk setiap hari warga membersihkan abu vulkanik yang menutupi atap rumahnya. Telat dua hari tidak dibersihkan, dipastikan rumah warga akan ambruk.

“Jangan dikira kondisinya malah aman, justru sebaliknya mengancam warga,”tujas Kepala Desa Sumberanom, Priyanto

Dari data di Kecamatan Sumber disebutkan, jumlah kepala keluarga (KK) di Desa Sumberanom sekitar 505 KK, Desa Wonokerso sekitar 635 KK, Desa Pandasari berjumlah 1340 KK, Desa Ledokombo berjumlah 700 KK dan Desa Geminto sekitar 600 KK

“Untuk sementara warga bekerjasama dengan relawan TAGANA dan PMI membersihkan abu vulkanik yang meumpuk di atap rumah,” ujar Priyanto.

Sejak hengkangnya relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Probolinggo, warga merasa kekurangan sebagian kemampuannya.
Bahkan parahnya kondisi ribuan warga yang tinggal di 10 desa itu, dirasakan Sulik (35) warga Dusun Wonosari Desa Wonokerso.

Sebab, sejak Senin (24/1/2011) lalu, Sulik (35) dirujuk ke rumah sakit di Malang setelah rumah sakit di Probolinggo tidak mampu menangani karena minimnya peralatan, perempuan paro baya itu dilarikan ke Malang lantaran mengidap penyakit kangker akibat menghirup abu vulaknik Gunung Bromo.

Kondisi kesehatan warga menurun, setelah dua jembatan putus dan belum diperbaiki oleh Pemkab Probolinggo, bahkan sudah dua bulan ini warga Desa Wonokerso bertahan hidup dari sisa hasil pertanian sebelumnya. Sedangkan bantuan dari Pemerintah tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“selama ini warga diam tidak dapat beraktifitas, sementara bantuan dari pemerintah baru dua kali disalurkan,” terangnya.

Menurut keterangan Kepala Desa Wonokerso, warga menerima bantuan pertama berupa 15 kilogram beras. Dan bantuan kedua berupa paket, berisi beras, sarimi, kecap, migor dan sejumlah kebutuhan sembako lainnya.

“Cukupkah bantuan itu untuk menghidupti selama beberapa bulan kedepan. Sedangkan kebutuhan perut, setiap hari harus terus diisi,” katanya.

Selain jalur penghubung putus dan perekonomian warga lumpuh, warga tidak punya penghasilan dan uang. (LEA)

BERITA LAINNYA

.