maiwanews – Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) Jawa Timur menggelar Musyawarah Wilayah Ke-5 di Gelora Hasta Brata Universitas PGRI Adi Buana, Jalan Dukuh Menanggal XII, Dukuh Menanggal, Kec. Gayungan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (10/12/2022).
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dalam membuka acara ini memaparkan beberapa tantangan yang dihadapi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam menjawab perubahan zaman di masa mendatang, salah satunya melalui pengembangan program komputasi awan atau cloud computing.
Maksud komputasi awan adalah sebuah konsep pemahaman dalam rangka pembuatan kerangka kerja komputasi secara online lokal maupun global.
Yang dimana terdapat beragam aplikasi maupun data dan media penyimpanan yang dapat diakses dan shared service (digunakan secara berbagi) dan simultaneous access (digunakan secara bersamaan) oleh para pengguna yang beragam, mulai dari perseorangan sampai kepada kelas pengguna korporasi atau perusahaan. Komputasi awan bisa dianggap sebagai perluasan dari virtualisasi.
“Komputasi awan (Cloud Computing) merupakan gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis Internet (awan),” ujar Wagub Emil.
Disampaikan Wagub Emil, mengutip konsep Prof Schelma dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang ditulis di Word Economy Forum mengenai New Education Institusional Model serta hasil perbincangan dengan Menteri Pendidikan dan Dirjen Pendidikan tinggi, sebenarnya memusat atau linier dengan apa yang dilakukan segenap insan perguruan tinggi di Jatim.
Salah satunya menggantikan satu semester dengan sebuah program pengembangan komputasi awan (clud computing) untuk suatu soft file atau solusi yang dapat memecahkan permasalahan-permasalahan di sector public, antara lain pendidikan, pelayanan public dan Kesehatan.
“Ini adalah satu pergeseran yang akan membuat masa belajar di perguruan tinggi menjadi lebih relevan dalam menjawab tantangan masa depan,” tutur Emil.
Wagub Emil, menambahkan konsep atau pola semacam ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga terjadi di luar negeri yang kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kaitan dengan ijazah dan peluang kerja yang sudah mulai bergeser.
“Inilah momen untuk melakukan pembenahan dan saya salut AB PPTSI telah melakukan antisipatif terkait hal ini,” ungkap orang nomor dua di Provinsi Jatim.
Lebih lanjut, Wagub Emil menjelaskan, ada dua solusi menjawab ijazah dan peluang kerja agar linier, pertama mereview dulu jurusannya lalu yang kedua mengintegrasikan kompetensi dan karakter yang dibutuhkan untuk menjadi professional yang sukses. Ketika semua itu diukur, maka siapapun yang mempercayakan anaknya di didik di sebuah kampus yakin bahwa dimensi mengenai leadership, problem solving, critical thingking akan terbentuk.
“Bisa di-track dan bukan hanya lulus SKS ini dan itu, tetapi benar-benar ada kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja hari ini. Jadi bukan hanya subjeknya, tapi aspeknya atau bergeser dari subjek menjadi aspek,” pungkas Wagub Jatim Emil.(*)
Fatmawati Rusdi Tekankan Pendekatan Humanis Satpol PP
Presiden Prabowo Terima Menlu Prancis, Tekankan Penguatan Kemitraan
Prabowo Siapkan Kebijakan Strategis, Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Biden Ragu Pemilu Amerika Serikat November Nanti akan Berjalan Damai
Safari Subuh, Andi Arwin Azis Ajak Jamaah Berpilkada dengan Bijak









