WALHI Aceh Beri Bantuan Korban Banjir Tangse

Banjir bandang Tangse menimbulkan korban jiwa dan materi yang tak terkira nilainya. WALHI Aceh tergerak untuk ikut memberikan bantuan semampunya dimana bantuan ini merupakan hasil pengumpulan swadaya internal organisasi. Penyerahan bantuan diserahkan pada hari Sabtu 19 Maret 2011 di pada tiga desa dalam wilayah bencana terparah.

Rombongan WALHI Aceh langsung dipimpin oleh Direktur Eksekutif T. Muhammad Zulfikar menyerahkan bantuan senilai Rp25 juta dalam bentuk barang. “Kita memberikan barang-barang yang dibutuhkan korban berdasarkan masukan kawan-kawan di lapangan,”ujar T. Muhammad Zulfikar.

Barang-barang yang dibagikan tersebut antara lain beras, gula, susu balita, peralatan dapur, sanitasi kit, mukena, handuk, makanan kering/biskuit dan peralatan mandi. “Bantuan ini memang tidak ada artinya dibanding kebutuhan korban namun inilah bentuk solidaritas kami kepada masyarakat. Insya Allah kita akan terus mengumpulkan bantuan,”kata T. Muhammad Zulfikar yang juga merupakan dosen Universitas Serambi Mekkah.

Tiga desa yang mendapat bantuan dari WALHI Aceh adalah desa Blang Dalam (diterima oleh Keuchik Zainal Abidin), Desa Layan (diterima oleh Keuchik Usman Assalam) dan Desa Ranto Panyang (diterima oleh Sekdes Bakhtiar).

Setelah memberikan bantuan rombongan WALHI Aceh ditemani oleh tokoh masyarakat lokal melihat secara dekat titik-titik yang mengalami kehancuran akibat banjir bandang. Tampak banyak sekali kayu-kayu gelondongan berserakan dimana-mana. Informasi dari masyarakat menyebutkan sebagian kayu gelondongan tersebut telah dipindahkan oleh pihak berwenang dengan alasan untuk dijual yang hasil penjualannya dipakai untuk rehabilitasi Tangse.

Tokoh masyarakat setempat, Zuhri Maulidinsyah kepada rombongan mengatakan Ia menduga keras banjir bandang ini disebabkan oleh penebangan liar. “Lihat saja begitu banyak kayu besar berserakan. Sawah-sawah penduduk hancur. Pemerintah harus merehabilitasi kerusakan ini,”kata Zuhri yang juga mantan anggota DPRK Pidie.

Memang tampak sawah-sawah penduduk yang tergerus air bandang dan di atasnya bergeletakan-kayu berukuran besar. Hal ini seperti di temui di Desa Peunalon I, desa pertama dihantam oleh aliran banjir bandang. Tampak kerusakan dimana-mana, rumah-rumah kayu roboh bagaikan kapas, serpihan kayu berserakan dimana-mana.

“Kita berharap agar peristiwa ini bisa jadi pelajaran bagi pemerintah dalam pelestarian hutan. Jangan cuma konsep saja, tapi segera bertindak,”ujar T. Muhammad Zulfikar.

WALHI Aceh sendiri disarankan oleh beberapa pihak untuk memperkuat advokasi lingkungan di daerah Tangse. Misalnya dengan melakukan pendidikan rakyat untuk menjaga lingkungan termasuk hutan serta melakukan advokasi kepada pihak pemernitah dan internasional.