
KEBONHARJO – Di lingkup Perhutani KPH Kebonharjo sudah bukan hal luar biasa dan baru lagi ketika kerap dikunjungi warga negara asing, utamanya mahasiswa atau kelompok peneliti, serta ilmuwan untuk melakukan studi banding. Termasuk kedatangan seorang warga negara Perancis bernama Miss Laure Ducos untuk belajar mengenai pengelolaan hutan lestari,Selasa (09/08/2011).
Administratur Perhutani KPH Kebonharjo, Ir, Sudarwanto, MSi, menyatakan salah satu kelebihan instansi yang dipimpinnya telah menerapkan pengelolaan hutan lestari (PHL), yang mana meliputi tiga kelola yaitu kelola lingkungan, sosial dan produksi.
“Selain tamu dari luar negeri, juga sebagai tempat setudi banding dari KPH – KPH dari lain daerah,” kata Sudarwanto.
Disebutkan Sudarwanto, di dalam mengimplementasikan semua aturan yang harus dipenuhi sesuai standar forest stewardshif counsil (FSC) yaitu badan indefenden dunia, KPH Kebonharjo aktif menjalankan kelola lingkungan guna meminimalkan dampak negatif dan mamaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan.
“Kontribusi lingkungan sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar antara lain: tersedianya air bersih, terjaganya kawasan lindung dan kawasan biodiversity, tersedianya udara bersih dan jasa lingkungan lainya,” tutur Sudarwanto.
Sementara itu, Laure menyatakan dipiluhnya KPH Kebonharjo karena dipandang terbaik untuk belajar tentang pengelolaan hutan lestari. Implementasi baik dari segi data mau pun pemantauan di lapangan dan pelaporannya, KPH Kebonharjo dalam pelaksanaan full implementasi Pengelolaan Hutan Lestari. Khususnya bidang lingkungan memiliki stasiun pemantauan lingkungan (SPL) yang tersebar di seluruh Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH), pengelolaan kawasan lindung yang di dalamnya terdapat kawasan biodiversity dengan nilai konsevasi tinggi (NKT).
Tamu dari Perancis ini juga melihat dan belajar tentang persemaian di petak 97 RPH Gato BKPH Tawaran Persemaian di lokasi tersebut dipokuskan pada Jati Plus Perhutani (JPP) stek pucuk, yang merupakan jati unggul Perum Perhutani, dengan masa panen 20 tahun, untuk persemaian lainya terdiri dari jenis jati, mahoni, kesambi, johar, kepoh, kemiri, kawis dan koltikultura laimnya.
Untuk penanaman dan pemeliharaan yaitu dengan sistem tumpang sari atau agroforestri. Pada tahun pertama dan kedua dilakukan penyulaman apabila ada yang mati, pemeliharaan tahun ke dua adalah wiwil, babat tumbuhan bawah, pruning dan penjarangan. Kegiatan pekerjaan tersebut dikerjasamakan dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Sesuai dengan program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).
Sedangkan untuk legalitas kayu terjamin dengan Chain Of Custody (CoC) atau lacak balak, sejak dari lokasi tebangan sampai Tempat Penimbunan Kayu (TPK) log yard, bahkan sampai industri hilir. Maka diberlakukan larangan pengambilan tunggak jati di wilayah hutan Kebonharjo, selain untuk pemenuhan lacak balak, tunggak juga masih banyak manfaatnya, untuk menahan erosi dan menyerap air hujan juga menjaga kesuburan tanah. Asef Ruskandar BScf menjelaskan.
Di sisi lain, seiring dengan perubahan paradigma pengelolaan hutan berbasis kemasyarakatan yang di implementasikan melalui sistem Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), menuntut adanya strategi dalam pengamanan hutan yaitu dengan komonikasi sosial (Komsos), patroli simpatik dan kegiatan sosial lainya.
Pengamanan tegakan dan tanaman serta lahan, dengan cara program pendekatan sosial Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Sambang Desa, Patroli Simpatik, pendekatan tokoh agama serta tokoh masyarakat.
Hal tersebut, kata Sudarwanto, dirasakan sangat efektif untuk perlindungan hutan di KPH Kebonharjo, tanpa menggunakan senjata maupun kekerasan. Tercapainya kondisi keamanan yang kondusif dapat dilihat dari rendahnya tingkat gangguan keamanan.
Penerapan Sistem Menejemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di Kebonharjo sejak tahun 2005 sudah merupakan komitmen managemen yang dilaksanakan seluruh karyawan, dalam upaya meminimalisir resiko kecelakaan sampai titik nol (zero accident). Ini dapat dibuktikan KPH Kebonharjo memperoleh penghargaan tingkat nasional yaitu dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar beberapa waktu lalu. Dan tamu dari Francis ini selama tiga hari di hutan KPH Kebonharjo dengan apresiasi yang memuaskan. (LEA)









