
Surabaya – Rencana spektakuler dari kelompok kaum homo yang telah matang untuk menggelar gathering tingkat internasional di Surabaya, harus pupus oleh gencarnya penolakan oleh kalangan ormas Islam. Lantas, apalah mereka akan ,menyerah begitu saja? Ternyata tidak begitu saja. Mereka menyatakan tetap akan berjuang untuk menggoalkan rencana yang tertunda tersebut di suatu hari nanti. Berikut sekelumit kisah dari mereka yang menyebut dirinya teraniaya.
Adalah Nency. Ia terpaksa bersembunyi di pojok ruang kamarnya, lantai 3 Hotel Oval, Jl. Diponegoro 23 Surabaya, Jumat siang (26/3). Lampu dan televisi dimatikan agar seolah ruangan kamar itu kosong tak berpenghuni. Ponselnya disetting diam.
Perempuan 26 tahun asal sebuah kota di Sumatera Utara tersebut, yang mengorientasikan dirinya sebagai lesbian itu sambil bergemetaran karena ketakutan lantas menghubungi kerabatnya via ponsel dan mengabarkan bahwa massa Front Pembela Islam (FPI) sedang mengepung Hotel Oval untuk membubarkan pertemuan (gathering) kaum homoseksual yang berlangsung di lantai 3 hotel itu.
Sementara, di lantai bawah, ruang lobi hotel, polisi terlihat sibuk mencegah massa FPI yang memaksa naik ke lantai 3, tempat pertemuan kaum homo itu dihelat. “Cukup perwakilan saja yang naik, lainnya harap tunggu di bawah,” ujar polisi.
“Kami tidak anarkis. Kami hanya meminta pertemuan kaum homo ini dibubarkan karena Indonesia adalah negara agamis. Tiak satupun agama yang memperbolehkan hubungan sesama jenis. Kalau perlu kami akan mengawal mereka meninggalkan Kota Surabaya,” ungkap Moh. Chaerudin, Sekjend FPI Jawa Timur.
Demi keamanan, akhirnya pertemuan kaum homo itu pun batal digelar. Satu persatu peserta sejak sore hari hingga malam pun memilih amannya demi keselamatan diri dengan segera meninggalkan hotel itu. Sedangkan beberapa yang lain memilih bertahan dan menunggu esok paginya untuk meninggalkan Kota Surabaya.
Nency menuturkan, panitia meminta para peserta pertemuan itu untuk sembunyi di sejumlah kamar hotel karena FPI mengancam akan melakukan sweeping. Tentu suasana panik tak terelakkan mengingat reputasi FPI yang selama ini dikenal militan. Namun Nency mengaku tidak kapok menjadi lesbian gara-gara peristiwa yang baginya cukup menegangkan itu. “Ini sudah bagian dari resiko menjadi seorang lesbian,” katanya.
Lebih lanjut dia mengaku sebenarnya sudah tahu bahwa dalam tiga hari terakhir menjelang pertemuan kaum homo itu berlangsung suasana Kota Surabaya tidak kondusif karena telah didemo oleh berbagai kelompok militan seperti FPI dan Forum Madura Bersatu (Formabes). Namun dia tetap nekad datang jauh-jauh dari Medan untuk menghadiri acara ini.
“Demi pergerakan kaum homo dan menegakkan eksistensi, saya memilih
tetap datang apapun resikonya,” katanya.
Rencananya kaum homo yang terdiri dari gay, lesbian, biseksual, transeksual dan interseksual dari berbagai belahan dunia akan menggelar gathering di Kota Surabaya selama akhir pekan, dan berakhir hari ini, Minggu 28 Maret lalu. Awalnya direncanakan berlangsung di Hotel Grand Mercure Surabaya. Namun karena berbagai tekanan, diam-diam acara ini dipindah di Hotel Oval meski akhirnya gagal karena ternyata FPI berhasil mengendusnya.
Lesbian lainnya asal Kota Surakarta, Sukma, menyatakan bahwa dengan didemo seperti ini merupakan tantangan bagi perjuangan kaum homo kedepan demi menegakkan eksistensinya. “Antara kami (Kaum Homo) dan FPI sebenarnya sama-sama berjihad cuma beda jalan. Kami sksn terud berjuang demi cinta,” tukas Nency.
Pemerintah Pastikan Penyaluran Bantuan Bencana Sumatra Berjalan Cepat
Pemkot Makassar Bersiap Hadapi Bencana Hidrometeorologi
Pj Sekda Hadiri Rakor Pencegahan Penurunan Stunting Kemenko Bidang PMK RI
Bea Cukai Malang Terus Gencarkan Gempur Rokok Ilegal
Jepang Capai Rekor Tertinggi Jumlah Lansia









