Yang Tersisa Dari Kongres PAN: Pembahasan Formatur “Sengaja Dilewatkan”

Batam – Dalam suasana yang sesekali diselingi gemuruh dan sorak sorai pendukung masing – masing calon ketua umum PAN, pleno pembahasan materi komisi A tentang AD/ART, agar lancar, beberapa materi usulan disepakati disahkan secara terpisah. Pengesahan beberapa berlangsung mulus kecuali dua materi yang dianggap krusial yakni pertama, materi tentang keputusan pencalonan bupati/walikota, apakah dilakukan satu atau dua tingkat. Kedua, apakah tetap dilakukan pemilihan formatur atau tidak seperti yang diusulkan Amien Rais.

Pembahasan yang pertama, meski gemuruh, berhasil dikelola dengan baik pimpinan sidang, mayoritas peserta memilih satu tingkat. Artinya, keputusan calon bupati/walikota cukup oleh DPW, bukan DPP. Menjelang pembahasan kedua atau yang terakhir tentang formatur, pimpinan sidang yang dipegang oleh Zulkifli Hasan mengusulkan memberikan kesempatan kepada Ketua MPP PAN Amien Rais menyampaikan beberapa arahan.

Mengira arahan Amien adalah tentang formatur yang banyak ditentang peserta, di atas podium Amien yang  mengawal terus kongres terutama pada sidang yang membahas hal – hal krusial,  justru berbicara tentang pertemuan “tingkat tinggi” antara Amien Rais, Hatta Rajasa, dan Drajat yang dilakukan pada malam hari. Semula peserta sidang agak protes, namun pimpinan sidang dengan lantang berseru , “mau dengarkan kejutan atau tidak?”, pesertapun terdiam, mengharap kejutan itu masih terkait formatur.

Seperti biasa, kalimat demi kalimat yang menenangkan dari Amien Rais terus mengalir sehingga tanpa sadar rangkaian pembahasan pleno ke 4 sudah beralih pada bagian terakhir kongres yakni proses pemilihan ketua umum. Ditunjang oleh suasana psikologi dukung mendukung yang berlangsung panas, gemuruh dan besahut – sahutan, sidangpun seolah terhipnotis dan melupakan soal formatur, sehingga keputusan apakah memilih formatur lengkap atau menganut sistem formatur simpel,  tidak pernah dibahas pleno apalagi disahkan.