Petisi 28 Desak KPK Tindaklanjuti Berita The Age

the-agemaiwanews – Petisi 28 mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menindaklanjuti pemberitaan The Age. Harian terbitan Australia itu menuding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan penyalahgunaan kekuasaan.

Selain SBY, beberapa pejabat dan mantan pejabat juga disebut The Age telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Selain The Age, koran Australia lainnya, Sidney Morning Herald juga menerbitkan berita yang sama.

“Peristiwa ini dapat menjadi dasar KPK melakukan penyelidikan terhadap sejumlah orang seperti Taufik Kiemas, Hendarman Supandji, dan Majelis Hakim Kasus PKB,” kata anggota Petisi 28, Haris Roesli di gedung KPK, Jakarta, Senin 14 Maret 2011.

Haris mengatakan, berita The Age dan Sidney Morning Herald yang mengutip data dari Wikileaks itu, sedianya dipandang sebagai informasi yang bermanfaat sebagai pintu masuk penyelidikan oleh KPK.

Informasi tersebut, lanjut Haris, bukanlah informasi sampah. Sebab menurutnya, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga disebut namanya oleh koran itu, telah membenarkan adanya informasi itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, The Age menurunkan berita utama yang mengatakan bahwa Presiden SBY telah melakukan penyalahgunaan wewenang. The Age menulis berita itu berdasarkan kawat-kawat diplomatis yang bocor di Wikileaks.

Disebutkan dalam kawat-kawat diplomatik tersebut, SBY secara pribadi telah campur tangan memengaruhi jaksa dan hakim demi melindungi tokoh politik yang korup dan menekan musuh-musuhnya serta menggunakan badan intelejen negara demi memata-matai saingan politik, dan setidaknya, seorang menteri senior dalam pemerintahannya sendiri.

SBY juga disebutkan telah memerintahkan Hendarman Supandji yang saat itu menjabat sebagai Jampidsus menghentikan penyelidikan terkait dugaan korupsi Taufik Kiemas. Kawat-kawat itu juga mengungkapkan bahwa istri Presiden, Ani Yudhoyono dan keluarga dekatnya, ingin memperkaya diri melalui koneksi mereka.

Atas berita itu, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI melakukan protes keras kepada pemerintah Amerika Serikat (AS). Kemenlu RI menilai AS ceroboh membiarkan informasi mentah dari kedutaan besarnya itu bocor.

Paska protes itu, Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel menyampaikan penyesalannya atas berita itu. Menurut Scot, semua informasi dari Wikileaks yang merupakan bocoran kawat rahasia Dubes AS adalah informasi mentah, prematur, dan belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Selain itu, baik The Age maupun Sidney Morning Herald telah memuat klarifikasi pihak istana terkait pemberitaan yang menghebohkan itu.