
Pada para pendukungnya Khadafi menyerukan untuk bersiap-siap melakukan pemberontakan terhadap penguasa baru negeri itu. Ia mengatakan akan terus melakukan perlawanan baik terhadap orang Libya maupun orang asing dan membuat negara itu tebakar dalam perang gerilya.
Khadafi menyerukan pendukungnya untuk terus melakukan perlawanan meski tidak dapat mendengar suaranya karena diacak pihak tertentu. “Mereka ingin masuk ke dalam perang panjang melawan kita. Biarkan itu terjadi. Kita akan berperang dari lembah ke lembah, dari gunung ke gunung”, katanya.
Ia juga menuding NATO ingin mengusai Libya demi kepentingan minyak. Untuk itu ia bertekad akan menghambat kegiatan ekspor minyak.
Di Paris hari Kamis, Perancis, Inggris, dan beberapa negara lainnya berjanji mempertahankan operasi militer selama dibutuhkan tetapi mengatakan fokusnya sekarang adalah pembangunan kembali. Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton juga mendesak para pemimpin sementara negara itu melakukan transisi inklusif dan demokratis.
Clinton mengatakan hendaknya PBB melonggarkan pembatasan terhadap asset pemerintah Libya. Dia mengatakan Amerika telah mengirim 700 juta dolar dari 1,5 milyar dolar asset yang telah dicairkan untuk Libya pekan lalu. Sementara Uni Eropa mengumumkan mereka akan mencabut sanksi terhadap 28 badan hukum Libya.
Meski beberapa negara telah mengakui NTC, namun negara-negara Uni Afrika belum siap untuk mengakui dewan transisi Libya. Demikian pula halnya dengan Venezuela, Hugo Chavez Selasa lalu menyatakan pihaknya hanya mengakui Khadafi sebagai pemimpin Libya yang sah. (Al Arabiya/VoA/aso | Foto: B.R.Q)
Pemerintah Pastikan Penyaluran Bantuan Bencana Sumatra Berjalan Cepat
Pemerintah Evaluasi BUMN Secara Komprehensif
Pemerintah Pastikan Produksi Beras Nasional Surplus
Danny Pomanto Gelar Muhasabah, Dzikir dan Doa Bersama Sambut Tahun Baru 2025
AS Sanksi Pemberi Dukungan Finansial, Militer, dan Pengadaan ke Korut









