maiwanews – Berbeda dengan versi yang selama ini beredar, Mabes Polri membeberkan kronologi kerusuhan di Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.Menurut polisi, dalam tragedi kemanusiaan itu 7 orang tewas.
“Korban di Desa Sodong ada 7 orang yaitu, 2 karyawan PT SWA, 2 masyarakat, 3 orang Pam Swakarsa,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Saud Usman dalam jumpa pers di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu 21 Desember 2011.
Dari tiga orang Pan Swakarsa yang tewas dalam peristiwa mengenaskan antara warga Sungai Sodong dan PT Sumber Wangi Alam tersebut, polisi mengakui bahwa dua orang di antaranya tewas digorok lehernya.
Dijelaskan Saud, pada kejadian yang terjadi tangga 21 April 2010 di Desa Sodong, bermula ketika warga melarang PT SWA melakukan panen kelapa sawit yang sebelumnya dinyatakan dalam keadaan status quo.
Berikut kronologi kejadian di Desa Sungai Sodong, Mesuji, OKI, Sumsel versi Polri seperti disampaikan Saud:
7 April 2011
Masyarakat menginformasikan ke pihak Polsek setempat bahwa ada penambahan petugas Pam Swakarsa di daerah itu. Dasar laporan itu karena masyarakat merasa tidak aman, namun polisi menjelaskan bahwa hal tersebut tidak akan berdampak apa-apa.
21 April 2011
>> Pukul 09.00 WIB
Dengan dikawal oleh 24 orang Pam Swakarsa, 10 Karyawan PT SWA melakukan panen kelapa sawit
>> Pukul 11.00 WIB
Dengan berkendara sepeda motor, dua warga setempat yakni Syaktu Macan dan Indra Syafii mendatangi karyawan PT SWA tersebut dan melarang panen. Sesaat setelah itu timbul keributan yang menyebabkan 1 warga meninggal dan 1 luka sementara di pihak PT SWA 1 karyawan meninggal. Keributan disebabkan karena PT SWA mengaku berhak memanen.
>> Pukul 12.30 WIB
Datang massa Desa Sodong ke kebun. Massa sebanyak 400 orang itu menyerang 60 orang karyawan yang ketika itu sedang berkumpul di pos PT SWA lalu membakar 87 rumah, 7 mobil tangki, 1 kendaraan roda dua, 4 mobil 2 truk, dan 1 eskavator.
Saat terjadi pembakaran, tidak ada petugas polisi yang berada di tempat itu. (Menurut polisi, hal itu karena jarak antara Polres dan lokasi kerusuhan yang jauh). Petugas baru datang dan mengamankan lokasi setelah kejadian.









