Pasokan Kedelai Terhambat, Tahu Tempe Langka

Kacang Kedelai (Functoruser)
maiwanews – Produksi tahu dan tempe terganggu akibat pasokan bahan baku berupa kedelai dari Amerika Serikat terhambat. Beberapa produsen menghentikan sementara produksinya, akibatnya tahu dan tempe jadi langka, kalaupun ada, harganya menjadi lebih mahal seiring dengan kelangkaan dan mahalnya harga kedelai. Amerika sebagai pemasok utama kedelai ke Indonesia mengalami kekeringan.

Di Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 500 pelaku usaha tahu dan tempe melakukan aksi demonstrasi di simpang tiga, Kartasura, Sukoharjo, Rabu 25 Juli 2012. Mereka meminta pemerintah segera menurunkan harga kedelai. Juru bicara aksi tersebut, Suradi Ismoyo, mengatakan demonstrasi diikuti lebih dari 150 industri kecil tahu dan tempe. Selain berdemonstrasi, mereka juga melakukan aksi mogok kerja tidak membuat tahu dan tempe selama dua hari ini akibat melonjaknya harga kedelai sampai Rp 9.000-Rp 10.000 per kilogram, atau naik hampir 100 persen dari Rp 5.000 per kilogram.

Ketua Asosiasi Koperasi Pengrajin Tahu dan Tempe Seluruh Indonesia, Sutaryo, mendesak pemerintah untuk membantu membenahi sistem tata niaga produksi tahu dan tempe di tanah air karena kedua komoditas tersebut sangat digemari masyarakat. “Karena ini hajat orang banyak, begitu kehilangan tempe dan tahu itu merupakan hal luar biasa. Maka ini harus diatur tata niaganya”, ujarnya.

Menanggapi masalah kedelai tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, menegaskan, pemerintah tidak tinggal diam sejak harga kedelai mengalami gejolak sekitar dua minggu lalu. Menurut Hatta, pemerintah telah menyikapi masalah itu dengan rencana menghapus bea masuk kedelai dan mendukung petani kedelai dalam negeri untuk terus meningkatkan produksi.

Kementerian Perdagangan serta Kementerian Koperasi dan Perindustrian menurut Hatta memfasilitasi koperasi pengrajin tahu dan tempe untuk melakukan impor langsung. Pemerintah juga membebaskan bea masuk kedelai sampai dengan akhir tahun dengan dilakukan pengawasan ketat oleh kementerian perdagangan. Ia menambahkan, kementerian perdagangan juga sudah melakukan pembicaraan dengan para pengimpor kedelai untuk tidak terlalu mengambil keuntungan tinggi dalam situasi kedelai dunia sedang mengalami persoalan karena kekeringan.

Kebutuhan kedelai nasional sebesar sekitar 3 juta ton per tahun sementara kemampuan produksi hanya mencapai 800 ribu ton per tahun. Untuk kekurangannya, pemerintah selama ini mengimpor dari beberapa negara. Impor kedelai terbesar Indonesia berasal dari Amerika Serikat disusul Brazil dan Cina. (aso/VoA)