TUBAN – Tak ada yang istimewa bagi para perempuan di Tuban ketika diperingati hari Kartini yang jatuh pada hari ini, Rabu 21 April 2010. Mereka tetap bekerja keras dan
menjalankan rutinitas seperti kebanyakan kaum lelaki.
Para wanita dusun yang tiap hari menyusuri hutan yang kian gundul memunguti rencek (ranting kering pohon jati, Red), telah terlatih menyangga beban kehidupan yang berat. Seberat bongkokan rencek yang dibawanya di atas gendongan di tengah jalan terjal berliku.
Walau kini jalan-jalan di seantero pegunungan kapur telah diaspal, tak berarti pekerjaan wanita di sana menjadi ringan. Rutinitas yang dilakukan wanita-wanita di Desa Jadi, maupun Tlogonongko di Kecamatan Semanding, Tuban tetap sama. Bangun pagi buta lalu menyusuri jalanan dan memasuki hutan jati mencari ranting kering atau rencek, untuk memasak.
Makan pagi tidak perlu disiapkan, baik untuk anak-anak maupun suaminya. Menu sarapan orang dusun di pegunungan kapur biasanya sepotong singkong atau ketela pohon yang direbus.
“Kami tidak pernah sarapan pakai nasi. Singkong atau ketela pohon dengan secangkir kopi sudah cukup,” kisah Sundari, Rabu (21/4) pagi ketika tengah beristirahat di pinggiran jalan. Seikat rencek teronggok di dekatnya.
Bersama-sama dengan dua perempuan setengah baya, ibu muda bermuka bersih itu membuka capingnya. Ujung rambut ikalnya dibasahi keringat.
“Pekerjaan seperti ini sudah kami lakukan saat masih remaja dulu. Sepulang sekolah, kami ramai-ramai mencari rencek,” kata Sundari yang hanya bersekolah sampai tingkat SD ini. “Jadi, apa yang kami kerjakan tiap hari bukan lagi sebuah beban. Tapi semacam kewajiban,” tuturnya.
Sehabis mencari rencek, tak berarti pekerjaan mereka selesai. Tapi, dilanjutkan memasak untuk persiapan makan siang. Begitu terus menerus setiap hari. Dari generasi ke generasi. Di dapur rumah mereka tak ada kompor. “Minyak di sini hanya untuk menyalakan lampu tempel kalau listrik padam,” tutur Sundari. Di Desa Jadi dan sekitarnya telah teraliri listrik sejak beberapa waktu lalu.
Bagi warga sekitar hutan, minyak tanah bukan kebutuhan vital. Meski cuma Rp 3 ribu/liter terbilang mahal untuk ukuran mereka.
“Uang Rp 3 ribu sudah dapat lauk yang bisa dimakan sampai sore. Walau hanya tempe dan beberapa bungkus kerupuk,” ujar Sundari.
Perempuan-perempuan yang berjalan mebungkuk oleh beban rencek di punggungnya, berjalan tanpa henti tiap hari. Seperti jarum jam yang terus berputar, perlahan tapi pasti tak pernah henti. Tidak hanya hari ini. Tapi juga esok, lusa dan sampai kapan pun.
Pipi Sundari merona merah ketika dipuji akan kekuatan fisiknya. Tak seharusnya dia bergelut dengan beban tiap hari. “Ah, dari dulu juga begini,” tepisnya. Senyumnya mengembang. Wajahnya berbinar cerah. Bunga liar dan semak diantara kakinya seperti memberikan ia jalan dan pengharapan.
Hari ini ia mengaku masak istimewa. Nasi beras dicampur jagung dengan sambal terung dan ikan asin. Sundari berpisah dengan perempaun lainnya di tikungan jalan. Sesekali ia menoleh ke belakang.
“Selamat Hari Kartini” – dari: keluarga besar maiwanews
Danlantamal VI Tinjau Kesiapan Personel Gabungan Pengamanan Hari May Day
Porsche AG Inisiasi Perubahan pada Dewan Eksekutif
Radmila Shekerinska Hadiri Seremoni Pusat Divisi Multinasional NATO di Hungaria
Menhan AS Rencana untuk Menampung Migran Ilegal di Teluk Guantanamo
Prabowo Panggil Menteri KKP, Perintahkan Usut Tuntas Pagar Laut di Tangerang









