Anak Sungai Bengawan Solo Mulai Mengering

ANAK SUNGAI BENGAWAN SOLOBOJONEGORO – Selain pengaruh datangnya musim kemarau, menurunnya debit air Sungai Bengawan Solo lebih dikrenakan oleh kebutuhan pengairan lahan pertanian

Sehingga, debit air sungai terpanjang di Pulau Jawa ini terus turun, dan mengakibatkan sejumlah anak sungai di wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Tuban yang berada sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo mulai mengalami kekeringan.

Bedasar pantauan di lapangan disebutkan, para petani yang terpaksa melakukan penyedotan air di Bengawan Solo, lantaran tidak ada jalan lain guna memnuhi kebutuhan lahannya atas air dalam upaya melakukan aktifitas tanam di tengah gencarnya isu wabah hama.

Bahkan mereka mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan guna menyewa mesin penyedot untuk mensuplai air ke lahan mereka.

Sementara, para petani yang lahannya berada di dataran tinggi, memilih untuk mengganti varietas tanamannya. Yang semula bertani padi, kini mereka lebih banyak dan muali mengalihkan jenis tanaman mereka pada palawija.

“Tanaman pad akan mati bila tidak cukup air. Tapi kacang-kacangan lebih tahan cuaca,” kata seorang petani asal Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel, Wahyuono.

Akibat terus menurunnya debit air Sungai Bengawan Solo, tercatat sebanyak 23 anak sungai yang berada di jalur Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan air.

Berdasar data yang diperoleh dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Air ( BPSDA) Bengawan Solo di Bojonegoro, menurunnya debit air disebabkan kecilnya sumber mata air yang berada di hutan sehingga air tersebut tidak sampai mengalir di aliran sungai yang berada di bawahnya. (met/gregory)