Anggota DPR: Calon Kapolri Sebaiknya Minimal Dua Orang

Logo Polrimaiwanews – Pergantian Kepala Kepoliran Republik Indonesia (Kapolri) tak lama lagi akan berlangsung,  aroma persaingan para kandidat sudah mulai tercium. Heboh berita ‘Rekening Gendut Perwira Polisi” juga ditengarai sebagai bagian dari kuatnya persaingan itu.

Anggota DPR-RI Nasir Djamil mengatakan, agar proses pergantian jabatan Kapolri berjalan sehat dan lancar, ia meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilih kandidat yang tepat untuk diusulkan ke DPR.

Terkait dengan kualitas, anggota komisi III DPR-RI itu juga berharap agar calon Kapolri yang disodorkan presiden bukan calon tunggal. “Nah, kalau yang disodorkan dua orang, akan ada kompetisi, itu cermin minimal demokrasi,” ujar Nasir.

Hal itu diungkapkan politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil, dalam sebuah diskusi pada program ‘Polemik’ Trijaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu 3 Juli 2010.

Terkait dengan suksesi itu, Nasir juga menyoroti tentang terjadi blok-blokan di tubuh korps kepolisian. Masing-masing kelompok bersaing untuk memenangkan “orangnya” menjadi Kapolri.

terjadinya blok-blokan itu beralasan karena jika seorang calon Kapolri lolos, maka dia (Kapolri baru) akan membawa ‘gerbong’ yang mendukungnya. “Jadi, mungkin ada praktik bumi hangus,” katanya. Bagi yang tidak mendukung ditempatkan pos tidak strategis misalnya.

Para calon, menurut Nasir, juga membentuk semacam tim sukses untuk memuluskan langkahnya. “Saya dengar sudah mulai ada tim sukses melobi  pihak ini dan pihak itu,” kata Nasir Djail menambahkan.

Pergantian Kapolri diperkirakan berlangsung pada Oktober 2010, bertepatan dengan masuknya Kapolri Jend Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD) ke masa pensiun.