maiwanews – Anggota parlemen Rusia percaya sudah saatnya meniadakan monumen Lenin dari alun-alun kota di seluruh negeri. Vladimir Lenin adalah pemimpin Revolusi Bolshevik. Gagasan De-Leninisasi disambut baik anggota Partai Rusia Bersatu namun ditentng Partai Komunis KPRF.
Aleksandr Kurdyumov dari Liberal-Democratic party (LDPR) menyarankan kenangan terhadap figur kontroversi sebaiknya disimpan di museum. Menurut Kurdyumov, alasan utama meniadakan monumen-monumen tersebut adalah tingginnya biaya perawatan. patung-patung itu akan tampak lebih baik setelah dipindahkan di museum. Di sana akan lebih aman dari tindakan vandalisme.
Kota-kota di Rusia saat ini dikatakan tidak memiliki “sejarah” selain Lenin, dan itu tidak adil bagi tokoh lainnya seperti Peter the Great, Jenderal Aleksandr Suvorov, dan Tsar Ivan the Terrible. Anggota parlemen dari partai LDPR menyerukan sudah saatnya lepas dari “cengkraman” Lenin dan menyisakan hanya monumen tertentu jika dianggap benar-benar sebagai karya seni dan ditempatkan dilokasi dimana penduduk lokal ingin melihatnya.
Pemerintah diminta melakukan referendum untuk mengetahui di wilayah mana monumen Lenin masih diinginkan penduduk lokal. Jika mereka tidak ingin lagi melihat pemimpin revolusi 1917 itu, Kurdyumov menyarankan monumen di wilayah tersebut sebaiknya dibongkar, dipindahkan ke museum, atau dijual ke kolektor. Uang dari hasil penjualan bisa digunakan untuk membuat taman.
Anggota parlemen Rusia Bersatu, Valery Trapeznikov, setuju kan ide itu, namun menurutnya harus didiskusikan dengan masyarakat untuk menghindari gelombang protes.
Partai komunis KPRF menolak keras usulan itu, Lenin disebut sebagai pendiri Federasi Rusia, sama seperti George Washington di Amerika. Politisi senior KPRF, Sergey Obukhov, menekankan beberapa undang-undang ditandatangani pemimpin Bolshevik, dan sampai saat ini masih berlaku di Rusia. selain itu, penghancuran bangunan arsitektur bernilai sejara adalah ilegal. (aso/RT)









