TUBAN – Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir dan mengantisipaso ancaman banjir susukan akibar luapan Bengawan Solo pada bulan-bulan Februari dan Maret, salah satu titk tanggul yang longsor di Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, Tuban, sejak kemarin mulai diperbaiki sebagai upaya mengantusipasi kemnungkinan luapan bah.
Walau pun upaya perbaikan sifatnya hanya sementara, nmun setidaknya bisa mengantisipasi terjadinya bencana besar, apabila sewaktu-waktu debit air Bengawan Solo meluap dan menggenangi ribuan pemukiman dan lahan pertanian yang ada di sepanjang daerah aliram sungai (DAS) terpanjang di Pulau Jawa ini.
Titik tanggul yang ambles atau longsor sejauh tujuh puluh meter di Dusun Belimbing, Desa Banjararum dipadatkan dengan alat berat serta dibantu puluhan masyarakat melakukan kerja bakti mengusung sandbag untuk ditumpuk di bibir tanggul yang ambles.
Tanggul yang ambles sebulan laly tersebut, menurut penuturan sejumlah warga, harus ditinggikan dengan tumpukkan pasir dan bronjong agar tidak tergerus debit air Bengawan Solo dan guyuran hujan deras yang hingga kini masih sering terjadi di kawasan setempat.
Meski pemerintah sudah mengeluarkan anggaran untuk memperbaiki tanggul tersebut, namun biaya perbaikan tersebut juga didanai oleh warga atau dengan cara swadaya.
“Upaya tersebut dilakukan agar perbaikan tanggul cepat selesai dan warga yang tinggal di bibir bengawan tidak cemas,” tutut warga setempat, Banadi.
Dikatakan, perbaikan tanggul tersebut sifatnya hanya semenetara sebagai langkah antisipasi longsor yang lebih luas dan bencana banjir. Diperkirakan, perbaikan tanggul tersebut memakan waktu hingga sepekan.
Seperti diketahui, ribuan warga di tiga kecamatan di Kabupaten Tuban, resah akibat tanggul Bengawan Solo amblas sepanjang tujuh puluh meter, karena tergerus air sungai.
Tanggul utama Bengawan Solo di Dusun Belimbing tersebut, longsor pasca hujan deras yang mengguyur kawasan itu. Tanggul mengalami keretakan rata-rata selebar lima puluh sentumeter akibat tergerus air. Retakan semakin parah menyusul gerusan air sungai, sehingga membuat tanggul amblas cukup parah.
Tanggul yang amblas mencapai panjang tujuh puluh meter dengan kedalaman rata-rata mencapai satu hingga dua meter. Amblasnya tanggul utama penahan air Bengawan Solo ini, tidak hanya membuat warga sekitar resah, namun juga mengancam ribuan warga lainnya yang tinggal di tiga kecamatan, masing– asing Kecamatan Rengel, Plumpang dan Kecamatan Widang.
Para warga yang bermukim di kawasan tersebut, khawatir tanggul tak mampu menampung debit air Bengawan Solo, jika sewaktu-waktu kembali meluap. Warga juga mengaku masih trauma dengan kejadian banjir besar yang pernah berlangsung pada tahun 1992 dan 2007 silam, yang kala itu, menenggelamkan ribuan rumah warga. (LEA)
Polisi Ungkap Kasus Pembunuhan di Tukdana, Indramayu
Operasi SAR Sisir Daratan dalam Pencarian Iptu Tomi Samuel Marbun
Appi Beberkan Rencana Pembangunan Stadion Hingga Keselamatan Transporasi
Semangat Kartini, Aliyah Mustika Ilham Serukan Perempuan Jadi Penggerak Perubahan
Tim Aju Bantuan Kemanusiaan TNI Berangkat ke Myanmar









