BOJONEGORO – Keberadaan para perajin batik sekarang ini boleh dikatakan sudah ada kemajuan cukup signifikan. Mula-mulanya sekitar beberapa perajin, sekarang sudah mencapai ratusan perajin. Namun perkembangan soal produktifitasnya menjadi terhambat akibat jumlah peralatan dan dananya hanya terbatas dari masing-masing kemampuan perajin.
“Dari total semua perajin yang ada di Bojonegoro ini, kita hanya punya delapan buah. Kedelapan alat-alat tersebut kita rollingkan ke semua perajin. Padahal perajin batik yang ada di Bojonegoro ini tersebar di tiga kecamatan. Kecamatan Dander, Temayang dan Purwosari, “ kata Ny. Sulatin (47) perajin asal Desa Mojoranu Kecamatan Dander.
Menurut pengakuan ibu dua anak ini dengan keterbatasan alat cetak batik ini menjadi penyebab utama menghambat produktifitas perajin. Sedangkan bantuan dari pemerintah Bojonegoro ataupun dari institusi lain masih belum menambah.
“Di paguyupan Batik khas Bojonegoro baru dapat bantuan hanya dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bojonegoro, ya baru delapan buah aja. Sudah sekitar 5 bulan yang lalu kita proposalkan permintaan tambahan alat ini ke Disperindag. Namun hanya janjinya saja yang katanya surat itu disetujui di tingkat Provinsi, Surabaya, “ paparnya.
Hal senada juga diungkapkan seperti Ny. Sulatin jika permintaan konsumen yang dari luar kota kerap kali dengan lidahnya terasa kesulitan memberikan jawaban yang pasti kepada konsumennya.
“Ke mana lagi kita mengeluhkan persoalan ini. Semestinya kita-kita ini bisa berkembang seperti perajin batik kota lain. Tapi justru merasa bosan untuk menagih jawaban dari instansi tersebut,” keluhnya.
Dari keterangan ibu yang juga berprofesi sebagai tenaga pengajar di salah satu sekolahan di Kecamatan Dander. Produktifitas rata-rata pengrajin semua yang ada di Bojonegoro ini mampu per hari mencapai 50 unit. Kenyataannya paling maksimal per orang hanya 5 sampai 10 unit perhari. “Itupun nunggu giliran alatnya sesudah datang ke pengrajinnya mas,” terangnya.
Disamping kesulitan minimnya peralatannya ini, kata wanita kelahiran asal Kota kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Pacitan ini juga terhambat masalah harga.
“Pengetahuan soal harga kain batik kita oleh masyarakat kita digebyah uyah. Artinya semua jenis batik, motif dan memakai berapa macam warna semua di samakan harganya. Padahal banyak warna dan motif itu berbeda harganya. Jika satu warna harganya Rp 50 ribu sedangkan yang memakai banyak warna atau dua motif bisa mencapai Rp. 100 ribu.
Selain itu katanya yang membuat mahal itu terletak pada pemakaian bahan baku untuk pewarna dan perangkaian motif yang memerlukan waktu. Jika satu warna dalam waktu beberapa puluh menit sudah jadi. Sedangkan yang menambah warna lain memerlukan bahan warna serta tambahan waktu.
Seperti diketahyu, motif sekarjati mencerminkan potensi Bojonegoro sebagai penghasil kayu jati pilihan, termasuk ukiran dan mebel berbahan kayu jati yang bagus. Motif jagung miji emas merupakan perwujudan Bojonegoro sebagai penghasil jagung.
Motif batik soto gondowangi mengingatkan potensi Bojonegoro sebagai penghasil tembakau virginia yang sangat terkenal dengan cita rasa keharumannya. Motif rancak thengul menunjukkan identitas Bojonegoro yang menghargai warisan seni budaya berupa wayang thengul.
Motif mliwis mukti mengingatkan pada kisah Angling Dharma. Sedangkan motif kahyangan api mengingatkan sumber api abadi di Ngasem, Bojonegoro. Motif paranglembu sekar rinambat simbol Bojonegoro sebagai salah satu daerah sentra ternak sapi. Motif pari sumilak mewujudkan identitas Bojonegoro sebagai lumbung padi di Jawa Timur.
Prabowo Tegaskan Komitmen Kedaulatan Pangan
Bertemu Prabowo, Bill Gates Puji Komitmen Indonesia dalam Kesehatan dan Pertanian
Danlantamal VI kenalkan alutsista AL ke santri Madinah
Operasi Alfa Bravo Moskona 2025 Mencari Iptu Tomi Terkendala Medan Berat Papua Barat
Fatmawati Rusdi Tekankan Pendekatan Humanis Satpol PP









