Pertama Terjadi, Bikin Keranda dari Jatah Raskin

TUBAN – Ini hal menarik dan, barangkali, baru kali pertama kali terjadi. Alokasi pembuatan keranda dibebankan pada rakyat miskin dengan cara menaikkan harga tebusan raskin.

Hal itulah yang menimpa keluarga miskin (gakin) di Desa Lajukidul, Kecamatan Singgahan, Tuban, Jawa Timur, dan kini tengah jadi perbincangan warga di sana.

Yang dipertanyakan warga, seperti disebutkan Pendi, yang didampingi sejimlah warga lainnya, bikan lantaran ada kenaikan Rp 6 ribu setiap saknya. Namun, untuk apa kenaukan harga tebisan raskin itu tidak pernah disosialisaikan sebelumnya.

Diugkapkan Pendi, gakin penerima raskin baru tahu setelah menerima jatah raskin jika uang tersebut dialokasikan untuk pembuatan keranda.

“Pada prinsipnya kami setuju dengan program yang menyangkut kepentingan umum. Persoalannya, untuk hal-hal seperti seharusnya tidak dibebankan pada masyarakat miskin,” kata Pendi dongkol.

Dikatakan Pendi, untuk pembuatan keranda paling banyak hanya dibutuhkan dana Rp 1,5 juta saja.

“Dari kenaikan harga tebusan tersebut, panutia pembagi berhasil mengumpulkan dana Rp 4,668 juta, dari total kucuran raskin di Desa Lajukidul 778 sak setiap dua bulan sekali. Bukan satu bulan seperti yang diberitakan kemarin,” ujar Pendi.

Sebuah potret ironi betapa ternyata warga miskin menjadi komoditas dan kepentingan sekelompok tertentu.

“Menurut hemat kami, pembuatan keranda yang tidak membutihkan biaya besar mestinya bisa diambilkan dari alokasi dana lain. Kalau memang tidak ada, ya dengan sistem tarikan sukarela,” ujar Pendi.

Hal lain yang kiranya perlu diketahui masyarakat adalah, persoalan yang ada di area raskin bukanlah menjadi tanggungjawab Perum Bulog. Karena, Bulog hanya berkewajiban melakukan pengadaan dan distrubusi hingga ke titik tujuan. Droping bisanya ditempatkan di balai desa setempat