Cerita Kwik Tentang Professor Kodok

Kwik Kian GieJakarta – Selama kasus Bank Century mengemuka di publik, ada suku kata yang berkonotasi sindiran, lumayan populer sering diungkapkan ekonom senior  Kwik Kian Gie dalam berbagai kesempatan, yakni suku kata “professor kodok.”

Bagi Kwik, professor kodok tersebut punya cerita. Dalam kesempatan rapat Pansus Angket Bank  Century Rabu, 20/01/2010,  di DPR Senayan, Kwik Kian Gie yang dipanggil sebagai saksi oleh Pansus Century, kembali menceritakan soal professor kodok tersebut, tanpa bermaksud menyinggung siapapun.

Cerita Kwik dimulai tentang seekor kodok yang hendak menyeberang sungai. Di sisi sungai,  duduk seorang anak jalanan berusia 14 yang memang setiap hari nongkrong di situ, seorang bocah berusia 5 tahun, dan seorang lagi professor.

Si bocah 5 tahun bertanya kepada professor, “berapa kali sang kodok melompat untuk bisa sampai di seberang sungai?”

“Kita lihat berapa lebar sungai dan berapa panjangnya, lalu dikalikan, baru diketahui berapa kali lompatannya.” Kata sang professor menjawab.

Namun jawaban sang professor tadi dibantah oleh anak usia 14 tahun. “Professor salah, yang saya lihat hanya dua kali (lompatan). Karena setelah melompat dan sampai ke air, lalu kodok akan berenang. Setelah itu ia akan melomat sekali lagi ke daratan,” kata anak usia 14 tahun itu.

Cerita Kwik ini mudah difahami sebagai analogi tentang pendekatan suatu masaalah dengan dua cara, yakni cara teoritis yang diwakili sang professor dan cara paraktis yang diwakili anak usia 14 tahun.

Jika analogi itu ditarik lebih jauh kepada keputusan penyelesaian kasus Bank Century adalah bahwa penyelesaian kasus itu tidak selalu harus diselesaikan dengan pendekatan teoritis, melainkan perlu pendekatan praktis yang realistis juga.

Cerita tersebut juga terkait denga pujian Kwik terhadap Yusuf Kalla yang disampaikan di depan rapat Pansus Century. Kala itu JK telah mengambil keputusan yang tepat menanggapi soal Century, termasuk penolakannya terhadap Blanket Guaratee.

Menurut Kwik, “JK itu sarjana ekonomi dan mengerti betul soal ekonomi, serta pengusaha sukses.”

“Pada saat JK menjadi menperindag, selain mengenal praktek, ia juga gigih. Pada saat itu, beliau tidak khawatir denga krisis, bahkan pernah sampaikan untuk bubarkan IMF dan beliau yang bertanggung jawab,” kata Kwik.