Dahlan Sampaikan Sebab TDL Industri Naik Hingga 80 %

Dahlan Iskan (Dirut PLN)maiwanews –  Ribut-ribut soal tarif dasar listrik (TDL) industri yang membengkak hingga ada yang naik di atas 80%, Direktur Utama PLN (Persero) Dahlan Iskan menyampaikan alasan kenaikan yang cukup memberatkan itu.

Hal itu menanggapi keluhan kalangan industri tentang kenaikan TDL yang jauh lebih tinggi dari kesepakatan antara pemerintah dan DPR yang hanya sekitar 6-15%, namun kenyataannya kenaikan mencapai 35-47% bahkan untuk UKM kenaikannya ada yang mencapai 80%.

Menurut Dahlan, penyebab kenaikan TDL bagi industri jadi sebesar itu diantaranya karena pemerintah dan DPR sebelumnya telah mematok menaikkan TDL dengan rata-rata kenaikan sebesar 10 persen.

Sementara tarif dayamax dan multiguna yang berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan sebesar Rp 12 triliun, dihapuskan. Akibatnya, yang harus naik hanya 8 juta pelanggan. Padahal dari pelanggan tersebut, 30 %  pelanggan diantaranya adalah golongan I-3 yang justru mengalami penurunan tarif.

Selain itu, juga diputuskan bahwa pelanggan untuk golongan 450-900 volt ampere (VA) tidak boleh mengalami kenaikan, padahal, lanjut Dahlan, jumlah pelanggan pada golongan tersebut mencapai 32 juta pelanggan.

“Jadi pelanggan yang naik itu harus menanggung beban 32 juta pelanggan, di tambah kehilangan pendapatan PLN dari daya max dan multiguna Rp 12 triliun serta menanggung hilangnya pendapatan dari pelanggan yang TDL-nya turun,” jelas Dahlan.

Hal tersebut diungkapkan Dirut Perusahaan Litrik Negara (PLN) Dahlan Iskan dalam rapat kerja antara DPR dengan PLN di Gedung DPR, Senayan,  Jakarta, Senin, 19 Juli 2010.

Dengan kondisi itu, Dahlan mengaku,  PLN  merasa kesulitan untuk mendistribusikan kenaikan TDL tersebut agar rata-rata kenaikannya TDL sebesar 10 persen tersebut.

Menurutnya, teman-teman di PLN menghitung 7 hari 7 malam tidak ketemu. Mereka mencoba lihat yang naik di atas 50 persen, ada 5 perusahaan di Jabar, tapi begitu kenaikan TDL diturunkan, maka yang kena kenaikan 30 persen banyak sekali.

“PLN sendiri merasa kesulitan untuk mencari simulasi kenaikan yang pas,” kata mantan CEO Jawa Pos Group itu memberi alasan.