Dampak Tsunami Jepang Bagi Ekonomi Indonesia

arief-poyuono-ed-maiwanews.comOleh: Arief Poyuono

Gempa dahsyat dan tsunami Jepang pada 11 Maret 2011 dipastikan bakal berdampak besar pada perekonomian Negeri Matahari Terbit tersebut. Jalan-jalan terputus, hancurnya infraksrtuktur, jutaan rumah dan industri atau bisnis kehilangan pasokan energi akibat terputusnya jaringan listrik.

Banyak pabrik otomotif, elektronik, dan kilang minyak di seantero Jepang juga ditutup akibat bencana tersebut, tentu saja untuk melakukan recovery akibat tsunami dan gempa akan banyak memerlukan dana miliran dollar.

Jepang merupakan negara dengan kekuatan ekonomi nomor 3 di dunia. Bencana di negara tersebut akan memberi pengaruh terhadap keseimbangan ekonomi global, apalagi saat ini ekonomi dunia belum juga stabil pasca krisis keuangan di Amerika Serikat, serta terus berkepanjangannya krisis politik di Timur tengah yang meyebabkan tingginya harga minyak dunia.

Imbas dari tsunami Jepang akan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia, dimana jumlah investasi Jepang dan bantuan bantuan dana hibah yang telah direncanakan kepada Indonesia serta komitmen investasi jepang terhadap Indonesia cukup besar. Selain itu Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor bagi Indonesia untuk sektor tekstil, furniture, hasil perkebunan, aquaculture dan Migas.

Gempa juga terjadi ketika ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut menunjukkan sinyal bangkit lagi setelah terpuruk pada triwulan terakhir tahun lalu. Musibah tersebut meningkatkan risiko terputus atau terhentinya banyak sektor bisnis kunci, setidaknya dalam jangka pendek.

Para pemimpin partai berkuasa, Partai Demokrasi Jepang (DPJ) atau Minshuto, Perdana Menteri (PM) Naoto Kan, serta partai-partai oposisi telah mendesak penyediaan anggaran darurat untuk membantu mendanai upaya-upaya pemulihan. Kantor berita Kyodo melaporkan bahwa PM Naoto Kan telah meminta khusus dana darurat untuk menyelamatkan negeri itu dari tsunami ekonomi.

Dengan demikian dampak Tsunami Jepang akan sangat mempengaruhi ekonomi Indonesia dimana komitmen investasi dan dana bantuan hibah dari Jepang akan dihentikan untuk waktu yang tidak dapat diprediksi, sebab Jepang sendiripun harus berusaha meyelamatkan ekonomi domestik mereka. Tidak itu saja, kemungkinan penjadualan hutang pemerintah Indonesia kepada jepang akan dibatalkan. Hhal ini pasti dilakukan karena Jepang sendiri membutuhkan dana besar untuk melakukan pemulihan ekonomi dan pembangunan infrakstrukturnya akibat Tsunami yang melanda Jepang.

Jika perekonomian Indonesia tidak dikelola dengan baik maka Indonesia bisa terkena Tsunami ekonomi. Apalagi saat ini perekonomian Indonesia sedang mengalami inflasi yang tak kunjung stabil serta rencana pembatasan BBM akibat dari sudah tidak mampunya pemerintah menanggung subsidi.

Akibat tsunami di Jepang juga berpengaruh pada ekspor Indonesia ke negara tersebut. Volume eksport Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan cukup drastis. Perekonomian Indonesia bisa jadi akan semakin melemah, yang sangat terpukul adalah para pengusaha dan perusahaan yang berorientasi pasarnya ke Jepang.

Saat ini pengusaha dan perusahaan di Inonesia harus menghadapi ancaman biaya ekonomi tinggi akibat kelangkaan BBM, pungli, rusaknya infrakstruktur, sering macetnya peyebrangan tol Jakarta merak, naiknya tarif PLN, serta kurangnya daya beli masyarakat. Perusahaan-perusahan yang berorientasi eksport ke Jepang akan mengurangi produksi malah mungkin akan menghentikan produksinya untuk sementara akibat hilangnya pasar mereka, hal ini bisa menyebabkan terjadinya pengurangan karyawan atau PHK.

Karena itu pemerintah SBY harus segera membuat suatu kebijakan khusus untuk melindungi perusahaan-perusahan yang berorientasi Ekpor ke Jepang yang akan mengalami penurun produksi dan melakukan penghentian sementara operasi serta melaklukan PHK ,akibat tsunami Jepang. Kebijakan tersebut bisa berupa keringanan pajak atau menjajaki pasar alternatif, jika tidak maka Tsunami Jepang akan dapat meyebakan tsunami Ekonomi di Indonesia

Jika Tim Ekonomi SBY jeli, tsunami di Jepang memberikan opportunity business bagi perusahaan di Indonesia, misalnya penjajakan dengan pemerintah Jepang agar perusahaan-perusahan kontruksi Indonesia bisa ikut tender untuk membangun kembali kota di Jepang yang hancur dilanda tsunami, pemerintah juga bisa membuka pasar untuk perusahaan perusahaan Indonesia yang memproduksi kebutuhan kebutuhan bahan untuk pembangunan kembali infrasktrutur serta tempat tempat tingal dijepang yang rusak akibat tsunami. Misalnya saja Semen, Besi, Pipa, kayu , alat rumah tangga ,dan furniture .

Tetapi jika pemerintah hanya mempersoalkan pepesan kosong wikileaks saja dan hanya asik dengan drama politik sabun reshuffle dan Menko Perekonomiannya hanya sibuk berpolitik, maka kesempatan (business opportunity) yang harusnya bisa didapat dari gempa Tsunami Jepang akan jadi pepesan kosong saja.

Penulis adalah: Ketua Presidium Nasional Komite Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu