Digelontor Hujan, Petani Tembakau Terpaksa Panen Dini

tembakauBOJONEGORO – Jumlah tanaman tembakau yang gagal panen akibat tingginya curah hujan di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur mencapai 3.600 hektare (ha) lebih sekitar dua setengah bulan terakhir.

Kondisi tersebut membuat petani mengalami kerugian Rp5 juta dalam setiap ha-nya. Bahkan, sebagian petani terpaksa melakukan panen dini.

Rinciannya, untuk wilayah Kabupaten Bojonegoro jumlahnya mencapai 3000 ha dan di Kabupaten Tuban total tembakau yang mengalami kerusakkan sekitar 600 ha. Data terakhir dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bojonegoro, sedikitnya 3000 ha tanaman tembakau mengalami gagal panen sejak 2,5 bulan lalu. Jumlah itu, tersebar di 8 kecamatan.

Diantaranya, Kecamatan Sugihwaras, Kepohbaru, Kedungadem, Baureno, Temayang, Bubulan, Ngasem dan Kanor. Angka tersebut, belum termasuk di beberapa kecamatan wilayah barat yang diantaranya Kecamatan Kasiman dan Ngraho.

Meluasnya tanaman tembakau ini, saat sebagian petani mulai beralih dari tanaman padi ke tembakau dan sebagian palawija di sekitar bulan Juli lalu. Padahal, di Kabupaten ini, lokasi tanaman tembakau luas sekitar 9000 ha.

Kepala Bidang Bina Usaha Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Bojonegoro, Khoirul Insan, tanaman tembakau mengakui, saat ini tanaman
tembakau diwilayahnya sudah tidak gagal panen lagi melainkan mati layu.

“Ini karena tanaman yang baru ditanam banyak tergenangi air hujan. Jadi,
saya ulang bukan puso tapi mati,” tutur Khoirul Insan.

Kondisi ini, membuat pimpinannya memerintahkan untuk terus memantau dan

mengontrol kondisi area tanaman tembakau di wilayahnya. Instansinya, lanjut
dia, juga telah mengeluarkan himbauan sekitar dua bulan lalu kepada
petani tembakau agar tidak menanam tembakau.

” Namun, sebagian dari petani masih ada yang tetap ngotot tanam tembakau.Karena, mereka (petani) tergiur dengan untung besar saat panen tiba,” terangnya.

Dia mencontohkan, seperti di Desa Sidomukti, Kecamatan Kasiman, meski hujan sudah turun dengan intensitas tinggi petani juga masih nekat menanam tembakau. Akibatnya, sekitar belasan hektare tembakau mati karena tergenang air.

” Jelas, dengan kondisi ini produksi mengalami penurunan,” ungkapnya tanpa menyebut angka prosentasinya.

Sementara, pihak Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Cabang Bojonegoro, Kholid menyebutkan, akibat cuaca yang tidak menentu mengakibatkan produksi tembakau mengalami penurunan lebih dari 30 persen.

Jumlah ini, dari totol luas area tanam sekitar 9000 ha dengan total produksi 9 ribu-10 ribu ton dalam setiap tahunnya.

“Tembakau yang mengalami rusak hingga mati layu pada masa tanam antara awal Juli-Agustus lalu,” jelasnya
.
Meski demikian ada tanaman tembakau yang berhasil diselamatkan atau dipanen lebih dahulu. Yaitu sebanyak 50 persen dari total produksi tahun 2010 ini. Tembakau yang dipanen ini, sudah ditanam awal Juni hingga awal Juli lalu.