Tuban – Terus terkikisnya pantai boom di perairan Laut Jawa yang terbrntang di sisi utara Kota Tuban, telah menghilangkan estetika budaya dan kerinduan pesona alam yang melambai nyiurnya dari kejauhan. Semuanya, hilang sudah kini. Potongan kenangan akan tempat itu seperti ikut terkikis keganasan ombaknya. Sudah waktunya, Pemkab Tuban menyulap pantai boom jadi sebuah tempat wisata menawan.
Histori di pantai boom tak akan pernah kembali. Tapi, paling tidak ada cara untuk menelusuri jejak kenangan yang telah lama hilang di sana. Pemkab Tuban kiranya perlu segera mewujudkan impian banyak orang tentang pantai boom, setelah Pelindo menyerahkan kewenangan pengelolaan pantai yang pernah jadi bandar dagang besar di era sebelum kemerdekaan dan masuknya tentara Jengis Khan ke tanah Jawa kepada pemerintah daerah setempat.
Pantai boom bagi orang Tuban adalah sebuah sejarah dan kebanggaan yang tak bias hilang begitu saja. Di bulan-bulan Ramadhan seperti sekarang ini, sehabis sahur, terutama di saat-saat bulan sedang purnama, orang-orang berjejalan di sepanjang jalannya yang menjorok ke laut. Ada yang sekdar duduik sambil melihat bulan, atau para remaja yang memanfaatkan momen itu untuk saling curhat dengan belahan hatinya. Nun jauh di perairan sebelah utara, sesekali nelayan melintas dengan perahu dan hasil tangkapannya.
Kini, setelah semua tentang pantai boom hilang dan rusak, banyak orang yang baru merasakan kerinduan betapa sesungguhnya asset alam itu adalah sebuah harta karun yang mesti digali dan dioptimalkan.
Seperti Tanjung Kodok di Lamongan misalnya, pantai yang dulu hanya sebuah tempat yang sunyi dan gersang berubah menjadi tempat wisata spektakuler berkat sentuhan tangan dingin bupati setempat.
Mengaca pada sukses yang dicapai Tanjung Kodok yang kini lebih dikenal dengan nama Wisata Bahari Lamongan (WBL), pantai boom sangat berpotensi untuk dikembangkan sekaligus menggairahkan sektor pariwisata di kota berjuluk srribu goa ini.
Semasa Tuban dipimpin Bupati Hindarto, di pantai boom direncanakan akan dibangun hotel terapung di atas laut dengan segala factor pendukung pariwisatanya. Investor telah dating dan menyatakan ketertarikannya. Bahkan, maket dari rencana spekyakuler itu pun telah pula jadi.
Namun, bersamaan dengan serangan badai krismon dan jatuhnya pemerintahan Orde Baru, rencana itu tak jua terwujud.
Dan orang yang paling kehilangan atas tergerusnya estetika pantai boom adalah Yon Koewoyo, satu-satunya personil Koes Plus yang masih tersisa hingga kini. Dulu, di tahun-tahun 1970-an, ketika pulang ke Tuban ia dan personil Kos Plus lainnya pasti menyempatkan diri datang ke pantai boom.
“Kami punya banyak kenangan di sana,” tutur Yon ketika berkesempatan datang kembali ke Tuban belum lama ini. Bahkan, aku Yon, salah satu hits Koes Plus berjudul “Kolam Susu” diilhami dari pantai boom. “Waktu itu pagi hari. Saya, Mas Tony, Yok dan Mury jalan-jalan ke sana. Tiba-tiba muncul ide dan lahirlah “Kolam Susu” yang diciptakan sekaligus dinyanyikan Yok sendiri,” kenang Yon.









