Komunitas Islam Rusia dan Muslim Indonesia terus meningkatkan kerjasama diberbagai bidang, baik pendidikan, pelatihan bank syariah, perhajian, wisata religi, busana muslim dan labelisasi makanan halal. “Kerjasama dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan agama juga meningkat,” kata Sekjen Kementerian Agama, Bahrul Hayat Ph.D dalam jumpa pers bersama Duta Besar RI di Rusia, Hamid Awaludin di Jakarta, Rabu 22 Desember.
Bahrul Hayat memaparkan, pada tahun 2010 terdapat 10 mahasiswa Rusia yang belajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur melalui program beasiswa. Jumlah tersebut akan ditingkatkan tahun 2011 menjadi 25 mahasiswa untuk belajar S1 dan S2 diberbagai universitas Islam. Sebaliknya, Indonesia juga mengirimkan beberapa mahasiswanya untuk belajar di Rusia.
Disamping itu lanjut Bahrul Hayat, terdapat program wisata religi, ini merupakan program rekreasi agama bagi kelompok wisatawan Rusia yang akan dilakukan untuk pertama kalinya. Uniknya, inisiasi ini muncul dari kalangan muslim di Kazan-Rusia yang menunjukkan betapa sejarah Islam di Indonesia memperoleh perhatian tersendiri di mata dunia. Kedua belah pihak juga sepakat untuk menyelenggarakan interfaith dialogue pada pertengahan tahun 2011.
Dubes RI untuk Rusia di Moskow, Hamid Awaludin mengungkapkan, saat ini muslim Rusia berjumlah 24 juta jiwa atau 19 persen dari penduduk Rusia sebanyak 148 juta jiwa. “Hubungan komunitas muslim kedua negara sangat dekat,” ujarnya.
Saat ini, lanjut Hamid, setelah komunis bubar, Islam di Rusia semakin berkembang pesat. Di mana-mana tumbuh masjid. “Dalam 15 tahun terakhir di Rusia 8.700 masjid baru dibangun, serta terdapat 90 perguruan tinggi Islam dan 300 madrasah,” kata mantan Menteri Hukum dan HAM ini.
Dalam berbagai hal Dewan Mufti Rusia baik skala nasional maupun provinsi selalu meminta saran kepada Indonesia dalam beberapa hal. “Kita sudah melatih manajemen haji, manajemen bank muamalat, sebentar lagi manajemen pengumpulan zakat fitrah,” jelasnya Hamid.
Rusia juga belajar masalah perhajian kepada Indonesia, menurut Hamid, karena negara kita adalah yang paling banyak mengirim jemaah haji. “Jumlah jemaah haji Rusia setiap tahun mencapai 24 ribu jemaah. Bahkan mereka juga meminta tambahan kuota antara 25-28 ribu,” imbuh Dubes.
Sementara itu Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof Dr Imam Suprayogo yang belum lama ini berkunjung ke Rusia menambahkan, di Kazan, ibu kota Tartarskan, terdapat universitas Islam Rusia. Selain itu, juga terdapat masjid besar di tengah kota. Menurut informasi di Tatarskan sebagai negara yang masuk bagian dari negara Rusia, jumlah masjid sudah lebih dari 1000 buah. Presiden Tartarskan, pada saat ini beragama Islam.
“Selama ini, saya memiliki gambaran bahwa Rusia adalah masyarakat komunis dan atheis. Bekas negara Uni Soviet tersebut tidak membolehkan agama hidup. Agama dibenci dan dianggap sebagai penyakit. Tetapi ternyata, pandangan saya tersebut tidak seluruhnya benar. Mungkin itu terjadi dahulu. Sekarang, keadaannya sudah berubah,” ungkap Imam Suprayogo. (ks/Kemenag | Foto ilustrasi: Ariela Ross)
76 Personel Gabungan Cari Korban Banjir Bandang di Pegunungan Arfak
Indonesia-Australia Komitmen Wujudkan Perdamaian dan Kemakmuran Regional
India-Pakistan Sepakat Gencatan Senjata
Presiden Luncurkan PHTC, Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Teknologi Digital
Operasi SAR Sisir Daratan dalam Pencarian Iptu Tomi Samuel Marbun









