Kawasan Wisata Gunung Bromo Ditutup

WARGA DESA NGADISARI BROMOPROBOLINGGO – Erupsi Gunung Bromo yang menimbulkan semburan abu vulkanik dan melumpuhkan aktivitas industri pariwisata di sekitar kawasan wisata gunung tersebut.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo, mengatakan hujan besar bercampur debu vulkanik menyebabkan kondisi kawasan wisata Cemoro Lawang tidak kondusiv.

Pasalnya debu setebal 20 centimeter yang menutupi atap rumah warga dansejumlah hotel di kawasan wisata Gunung Bromo, runtuh karena tidak kuat menahan abu vulaknik.

“Kawasan wisata Gunung Bromo dan Cemoro Lawang untuk sementara ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan, karena sejumlah sarana dan prasana umum dan hotel rusak. Kondisi ini sangat mengancam keselamatan warga dan para wisata, yang akan menikmati kawasan tersebut,”kata Tutug Edi Utomo, di Probolinggo, Kamis (30/12/2010).

Penutupan kawasan wisata Gunng Bromo tersebut urai Tutug, sebenarnya dilakukan sejak letusan mayor pada Minggu (19/12) sekitar pukul 10.17 menit. Namun kembali dibuka pada Senin (20/12), lantaran kunjungan sejumlah pejabat Pemprov Jatim dan anggota DPRRI. Karena sejak Selasa (21/12) kembali ada letusan mayor hingga Rabu (22/12), sesuai kesepakatan bersama maka sejak Kamis (23/12) kawasan wista Gunung Bromo kembali ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan.

“Lantaran Kondisi kawasan wisata Gunung Bromo dan Cemoro Lawang sudah tidak kondusif, sesuai keputusan bersama maka kawasan tesebut ditutup bagi wisata hingga waktu yang tidak ditentukan,”ungkapnya.

Bahkan hujan besar bercapur abu dan air, juga memadamkan aliran listrik di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. dan sejumlah ranting pohon disepanjang jalan menuju kawasan tersebut juga patah.

“ Para pemilik hotel dan penginapan di kawasan tersebut tidak lagi menerima tamu yang akan menginap, karena sejumlah karyawannya masih melakukan kegiatan untuk membersihkan debu yang menutup fasilitasnya,”ungkap mantan Kabag Kominfo Kabupaten Probolinggo.

Pantauan di lapangan, sepanjang perjalanan menuju kawasan wisata Gunung Bromo dan Cemoro Lawang. Tampak ribuan hektar tanaman kentang dan gubis tampak rusak tertimbun abu vulkanik.

Bahkan tampak sejumlah petani di Desa Wonkerto dan sekitarnya, memanen dini sayuran wortel walau harga jualnya anjlok mencapai Rp 1.800 per kilogram.

Adi (24) warga Desa Wonotoro Kecamatan Sukapura mengungkapkan, kualitas jelek hasil panen merosot. Berdampak pada pendapatan warga yang tinggal di lereng Gunung Bromo, padahal mayoritas warga di kawasan tersebut hidupnya bergantung pada hasil pertanian.

“Masyarakat Tengger tidak berharap banyak bantuan dari pemerintah, menunggu bantuan dari pemerintah. Sama halnya harap-harap cemas,”aku Adi (24/12) Selasa (28/12).
Data di Kecamatan Sukapura, kerugian akibat rusaknya tanaman bawang sekitar Rp 40 juta per hektar dan hancurnya kentang sekitar Rp 20 juta. Sementara tanaman Kubis yang terguyur abu vulkanik juga tidak bisa dipanen.

“Lahan seluas 755 hektar yang ditanami kentang rusak, sedangkan tanaman kubis yang rusak ditanaman di lahan seluas sekitar 625 hektar, tanaman tomat di lahan seluas 33 hektar, bawang prei di lahan seluas 215 hektar, dan sejumlah sayuran lain yang ditanam di 196 hektar juga rusak akibat abu vulkanik yang disemburkan dari Gunung Bromo selama hampir sepekan terakhir,” ujar Adi. (LEA)